23 TKI Diusir ke Nunukan Lahir di Malaysia

Penulis: Anto

Nunukan (berandatimur.com) – Sebanyak 23 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang diusir Pemerintah Kerajaan Malaysia ke Kabupaten Nunukan, Kaltara tercatat dilahirkan di Negeri Sabah.

TKI yang diusir pada Kamis (26/7) berasal dari wilayah kerja Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu Negeri Sabah tiba di Pelabuhan Internasional Tunon Taka Kabupaten Nunukan menggunakan kapal angkutan resmi dari Pelabuhan Tawau sekira pukul 16.00 wita.

Kedatangan ratusan TKI bermasalah ini dijemput oleh petugas imigrasi, kepolisian, TNI AD dan Kesehatan Pelabuhan selanjutnya diarahkan menuju xray milik bea cukai untuk pemeriksaan barang bawaannya.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Nunukan, Ferry Herling Ishak Shout di Nunukan, Kamis (26/7) mengutarakan, pemulangan kali ini berjumlah 151 orang terdiri dari 101 laki-laki dewasa, 36 perempuan dewasa, sembilan anak laki-laki dan lima anak perempuan.

Baca Juga:  Mantan Ketua DPRD Nunukan Dilaporkan ke Polda Kaltara

Sebelum diusir ke daerah itu, kata dia, mereka telah menjalani hukumannya di Pusat Tahanan Sementara (PTS) di Kota Kinabalu  sesuai pelanggaran yang diperbuatnya.

Dari 151 TKI bermasalah yang diusir ini petugas Imigrasi Nunukan mencatat masing-masing sesuai pelanggarannya. Yaitu, 53 orang masa tinggal melampaui batas waktu (overstay), 23 orang terdata lahir di Malaysia, 41 orang masuk secara ilegal atau tidak memiliki dokumen sama sekali, kasus narkoba enam orang, kriminal biasa delapan orang dan 20 orang paspor tidak diperpanjang.

Ferry mengajak TKI yang diusir agar tidak kembali ke Malaysia lagi tanpa melengkapi diri dengan dokumen resmi dan sah. Tujuannya, supaya tidak melakukan pelanggaran keimigrasian sebagaimana yang dilakukan sebelumnya sehingga ditangkap dan dipenjarakan.

Pada kesempatan yang sama, Babinsa Kodim 0911 Nunukan, Sertu Muhsin yang aktif melakukan penjemputan dan pendataan terhadap TKI yang diusir Malaysia menegaskan, calon TKI tidak perlu tergiur dengan bujuk rayu para calo sehingga memilih menyeberang secara ilegal.

Baca Juga:  Ada yang terpapar COVID-19, pemulangan 400-an WNI/TKI dari Sabah ditunda

Namun dia akui, perlu memberikan pemahaman kepada WNI yang akan berangkat bekerja di Negeri Sabah agar memiliki paspor terlebih dahulu sebagai dokumen negara Indonesia.

TKI yang dideportasi Malaysia saat berada di terminal Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kamis (26/7). (Foto: Okta)

Bahkan Muhsin mengajak, WNI tidak perlu lagi ke Malaysia jika hanya bekerja di perkebunan kelapa sawit karena di Indonesia juga sudah banyak perkebunan yang sama dengan upah yang mencukupi.

“WNI yang mau berangkat bekerja di Malaysia jangan percaya bujuk rayu para calo sehingga menyeberang secara ilegal atau tidak pakai paspor,” harap Babinsa Kelurahan Nunukan Timur yang menaungi Pelabuhan Tunon Taka.

Baca Juga:  Harga rumput laut di Nunukan tembus Rp18.000/kg, masalah kualitas sebatas keluhan tanpa solusi

Salah seorang TKI yang diusir bernama Robi (25) mengaku berangkat ke Negeri Sabah (Malaysia) tidak memiliki paspor karena menyusul orangtuanya yang bekerja di Kota Kinabalu.

Pasca penangkapan oleh aparat kepolisian Malaysia hingga dipenjara selama berbulan-bulan akhir memutuskan tidak akan kembali ke negeri jiran lagi. Meskipun kedua orangtuanya masih berada di negara itu.

Robi pun memilih akan pulang ke kampung hakamannya di Sulsel dan meminta kepada sanak saudaranya agar tidak berangkat ke Malaysia tanpa paspor.

Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here