ACT kelola dana sumbangan sampai Rp1 triliun, PPTAK: Perusahaan pendirinya kelola dulu sebelum disalurkan

Dana Sumbangan ACT Diduga Dikelola Perusahaan Pendirinya
Pendiri ACT Ahyudin. FOTO: Doc
Jakarta – Penelusuran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK) juga menemukan adanya dana sumbangan masyarakat yang dikumpulkan lembaga filantropi Aksi Cepat Tanggap (ACT), dikelola oleh perusahaan milik pendirinya.
Dana yang dikelola perusahaan pendirinya sebesar Rp30 miliar dari total sampai Rp1 triliun yang dikelolanya dari berbagai donatur dan sumbangan masyarakat. Berdasarkan database PPATK, perputaran uang di ACT per tahunnya sangat besar mencapai Rp1 triliun.
Hal itu diungkapkan Kepala PPATK Ivan Yustiavandana kepada awak media saat konferensi pers pada Rabu 6 Juli 2022.
“Nilainya memang luar biasa besar ya. Jadi sekitar Rp1 triliunan. Termasuk dana keluar-masuk itu per tahun itu perputaran sekitar Rp1 triliunan. Jadi bisa dibayangkan itu memang banyak,” ungkap Ivan.
Selama penelusuran PPATK, transaksi keuangan ditemukan ACT berafiliasi dengan sejumlah perusahaan milik pendirinya. Ivan menjelaskan PPATK juga mendalami terkait bagaimana struktur entitas atau kepemilikan yayasan dan pengelolaan pendanaan dan segala macam.
“PPATK melihat bahwa entitas yang kita lagi bicarakan ini itu terkait dengan beberapa usaha yang dimiliki langsung oleh pendirinya,” jelasnya. Hanya saja, Ivan tidak merinci jumlah perusahaan milik pendirinya yang berbentuk perseroan terbatas (PT) berafiliasi dengan ACT.
“Ada beberapa PT di situ, itu dimiliki langsung oleh pendirinya dan pendirinya termasuk orang yang terafiliasi karena menjadi salah satu pengurus,” bebernya.

Dana yang dikumpulkan ACT selama ini, tidak langsung disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Tetapi ditemukan dikelola secara bisnis terlebih dahulu untuk memberikan keuntungan kepada ACT.

Baca Juga:  Data survei BPS Pusat belum valid, sejumlah item produk ekspor-impor tak dicantumkan

“Ada transaksi memang yang dilakukan secara masif. Tapi terkait dengan entitas yang dimiliki oleh si pengurus tadi. Jadi kita menduga ini merupakan transaksi yang dikelola business to business,” ungkap Ivan. (***)

Sumber: PojokSatu
Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here