Mengenang Akbar Faizal, Berawal dari Jurnalis Hingga Politisi

Oleh Almadar Fattah

Akbar Faizal lahir di Ujung Pandang (Makassar), 21 Desember 1968. Dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana dan pekerja keras.

Sosoknya dianggap sangat berani dan kritis selama duduk di parlemen yang bermarkas di Senayan Jakarta selama dua dekade.

Sikap berani dan kritis telah ditunjukkan sejak mahasiswa di IKIP Ujung Pandang melalui aksi-aksi demonstrasi. Gaya kemahasiswaannya senantiasa dilekatkan dalam dirinya sampai sekarang.

Keberanian dan kritisnya dibarengi dengan  kemajuan. Seperti gagasan yang pernah dikemukakan beliau pada waktu mahasiswa, bahwa seorang sastrawan harus mampu menjadi guru dan agen kemanusiaan serta pelopor perubahan di dunia nyata.

Melintansi dan kehidupanlah yang memisahkan kami di tahun 1993. Ia hijrah ke Jakarta dan saya pulang kampung menjadi abdi negara di Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat. Tetapi persahabatan tetap terjaga walaupun hanya sesekali bertemu langsung dan juga melalui website dan facebook.

Di Jakarta Akbar Faizal kariernya berlanjut sebagai wartawan salah satu koran nasional yang terkenal di Indonesia “Harian Jawa Pos”. Jiwa militan dan pekerja keras membawanya menduduki berbagai posisi strategis diberbagai media dan instansi, seperti pimpinan redaksi sebuah majalah dan presiden direktur di dua instansi yang berbeda.

Baca Juga:  Calon TKI Diimbau ke Malaysia Lewat Jalur Resmi
Penulia Almadar Fattah (kiri) bersama Akbar Faisal (kanan)

Anggota DPR RI Komisi III ini lebih banyak mengedepankan sikap yang gemar menulis cerpen, puisi maupun novel ini kemudian dilirik Partai Demokrat. Dari sinilah awal baik kariernya di dunia politik, dimulai saat ia menjadi salah satu Ketua Umum Pemuda Partai Demokrat pada 2003 hingga 2007.

Dia tokoh muda sangat berpengaruh di Partai Demokrat, diam-diam ambil kesempatan Partai Hanura yang didirikan Wiranto meminangnya, sehingga mengantar dirinya menjadi wakil rakyat dari daerah pemilihan Sulsel II. Ia dipercaya duduk di Komisi V DPR-RI dan saat sekarang ini ia duduk di Komisi III DPR-RI dari Partai Nasdem.

Sebagai wakil rakyat, ia merupakan salah satu anggota yang cerdas, kritis, tegas, disiplin dan berani menantang siapa pun untuk memperjuangkan kebenaran. Baginya hidup ini bukan untuk mengejar kekuasaan, tetapi harus elegan dan selalu memancarkan aura yang positif sehingga siapapun dekat dengan dia pasti akan merasa nyaman.

Dia pernah berkata: “Saya siap menghadapi ketidakpopuleran karena ada sesuatu yang lebih besar yang perlu dimaknai yaitu kebenaran”.

Baca Juga:  Pengungkapan Jaringan Narkoba Internasional: 10 Tertangkap, 3 DPO

Nama Akbar Faizal langsung bergaung diantara 560 wakil rakyat lainnya di Senayan, saat menjadi anggota Pansus Hak Angket Bank Century. Behavior dan kecerdasannya berapologi di Pansus Hak Angket Bank Century membawa dirinya terpilih sebagai Man of The Year 2010 dari salah satu media di tanah air.

Putra Soppeng ini juga dinobatkan sebagai anggota DPR-RI di Senayan paling berpengaruh sehingga resmi menerima Charta Politika Award III di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta pada 2012.

Dari Partai Hanura akhirnya Akbar Faizal pindah ke Partai Nasdem dan kembali lolos menjadi anggota legeslatif yang kedua kalinya periode 2014 – 2019 bertugas di Komisi III yang membidangi Hukum, HAM dan Keamanan. Sampai sekarang ia juga memegang posisi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasdem.

Masa transisi demokrasi dewasa ini yang tidak lepas dari kekuatan modal politik dari masing-masing calon legeslatif yang selalu dipenuhi dengan kepentingan transaksional, membuat Akbar Faizal tidak terpilih lagi yang ketiga kalinya ke Gedung Senayan.

Patronase politik dengan ciri klientalisme dan patrimonialisme yang dijalankan pemodal politik, sesungguhnya cara-cara inilah yang tidak disukai Akbar Faizal. Ia mencoba menggunakan hati dan pikiran untuk melawan politik transaksional yang bernuangsa “politik treding”, politik wujud dagang, akibat tumbangnya keyakinan bahwa politik adalah sarana untuk mensejahterakan rakyat lewat produk aktivitas politik.

Baca Juga:  Gubernur Kaltara bersama istri bedah gubuk milik Nenek Zaharah (70)

Akbar Faizal yang saya kenal di kampus dan kehidupan di kost Kalita pada jaman itu adalah sosok pemberani dan tahan dengan penderitaan. Walaupun di luar parlemen nantinya akan tetap datang dengan gaya khasnya yang pemberani dan kritis berteriak dan menyuarakan suara dan kepentingan rakyat.

Kepewaiannya sebagai sastrawan, wartawan dan politikus, saya yakin tetap akan mengaung menghipnotis siapa saja yang ingin lari dari kepentingan rakyat dan realita kebenaran. (***)

Penulis adalah Kepala Sekolah di SMPN Tapango Kabupaten Polman, Sulbar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here