Alex Ofong Ajak Masyarakat Lembata Fokus Kembangkan Pertanian dan Peternakan

Reses Anggota DPRD NTT Ajak Masyarakat Fokus Kembangkan Sektor Pertanian dan Peternakan
Anggota DPRD NTT Alex Ofong dari F-Nasdem saat reses di Desa Panama Kecamatan Buyasari, Lembata, Jumat (25/11)

Lembata (BERANDATIMUR) – Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai NasDem Alexander Take Ofong mengajak masyarakat Kabupaten Lembata untuk mempersiapkan diri menghadapi resesi yang diprediksi akan terjadi di Indonesia pada 2023.

Ia mengajak masyarakat untuk fokus pada pengembangan sektor pertanian dan peternakan.

Hal ini disampaikan saat Ketua Fraksi Nasdem DPRD NTT melaksanakan reses di Desa Panama, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Jumat 25 November 2022.

Alex Ofong mengatakan, di NTT rata-rata masyarakat petani dan peternak sehingga harus menjalankan sektor pertanian dan peternakan secara bersama-sama dan terintegrasi untuk menghadapi resesi yang diprediksi terjadi pada 2023.

“Disini kita harus mempersiapkan diri hadapi resesi yang telah diprediksi akan terjadi di Indonesia pada 2023 mendatang,” ujarnya.

Baca Juga:  Ritual Belo Berekaneng Suku Labaketoy sembelih dua ekor kambing 

Ofong menambahkan, Indonesia akan mengalami kemungkinan resesi ekonomi pada 2023. Oleh karena itu, petani dapat mengembangkan tanaman jagung, padi, kacang-kacangan, dan umbi-umbian.

“Jagung yang dihasilkan bisa jadi pakan ternak dan orang ke sini beli jagung kita dan itu konsep Pak Gubernur kembangkan program tanam jagung panen sapi (TJPS),” ungkapnya.

Dikatakannya, konsep yang digalakkan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat itu merupakan konsep pertanian dan peternakan terintegrasi.

“Konsep tanam jagung juga bukan hanya jagung, tetapi tanaman pangan apa saja bisa ditanam, dan sapi juga bukan sapi saja tapi semua ternak. Usaha tani yang jadi pakan ternak dan hasilnya bisa jual untuk beli bibit dan peternakan pupuk bisa jadi penyubur untuk pertanian. Diolah dalam satu-kesatuan,” terangnya.

Baca Juga:  Pendaftaran Mahasiswa Baru IKTL Secara Online, Bisa Juga Langsung ke Kampus

“Pengembangannya disesuaikan dengan kondisi lahan. Jika cocok mengembangkan jagung, maka jagung yang dikembangkan,” tambahnya.

Namun jika lahannya luas, maka bisa diintervensi melalui program TJPS. Program yang sudah bekerja sama dengan bank dan offtaker.

Bank menyiapkan dana pengadaan bibit dan pupuk, lalu hasil atau produksinya diambil oleh offtaker. Setelah dijual dan dihitung biaya produksi, sisanya diserahkan kepada petani.

“Jadi lahan jangan dibiarkan kosong. Lahan yang ada harus ditanami jagung, padi, pisang, ubi, kacang. Agar saat krisis pangan ada jagung ubi dan lainnya yang dipakai untuk konsumsi,” tegas Alex Ofong.

Baca Juga:  Sukseskan ETMC 2022, Pemkab Lembata gelontorkan Rp3 miliar

Hanya saja, kata dia, butuh kebersamaan dimana Pemerintah harus mendorong hadirnya BUMDes yang bisa menampung komoditas masyarakat agar ada tawar menawar.

“Kalau jual sendiri-sendiri maka mereka bisa mainkan harga”, tutupnya.  (*)

Reporter: Azis Usman
Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here