Banjir di Sebatik Sebuah Tradisi, Menyalahkan Selokan

Sebatik (berandatimur.com) – Banjir kembali menggenangi dua kecamatan di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan, Kaltara ibarat tradisi yang tidak pernah diselesaikan dengan menyalahkan selokan yang tidak mampu menampung aliran air kala hujan deras.

Kedua kecamatan yang menjadi langganan banjir ketika hujan deras dan berlangsung lama adalah Sebatik Barat tepatnya di Bina Salam Desa Liang Bunyu dan Sebatik Tengah tepatnya di Desq Ajikuning.

Kedua desa ini terpaksa aktivitas menjadi lumpuh karena jalanan dan fasilitas umum tergenang air. Misalnya di Desa Ajikkuning, kantor desa dan sekolah terdampak dengan genangan air sampai lutut orang dewasa.

Sirajuddin, warga Desa Liang Bunyu Kecamatan Sebatik Barat, Jumat mengungkapkan, hujan deras yang mengguyur sejak semalam hingga pagi hari menjadi penyebab banjir.

Hal ini tidak terlepas oleh ketidakmampuan selokan untuk menampung aliran air yang cukup tinggi akibat hujan deras tersebut.

Baca Juga:  Untuk mengurangi ketergantungan pangan, petani Nunukan perlu berinovasi
Rumah warga di RT 09 Bina Salam Desa Liang Bunyu Kecamatan Sebatik Barat yang tergenang banjir akibat hujan deras dan selokan yang tidak memadai, Jumat (7/9)

Kondisi ini telah berlangsung berulang kali tetapi belum pernah ada jalan keluar yang dilakukan pemerintah kecamatan atau pemerintah kabupaten untuk memperbaikinya.

Akibatnya, setiap hujan deras masyarakat di Bina Salam selalu waspada khususnya pada malam hari. Khawatir air hingga masuk lantai rumahnya.

Sirajuddin menambahkan, untuk korban harta ataupun jiwa memang belum pernah terjadi karena sebagian besar rumah warga terbuat dari kayu dengan ketinggian mencapai dua meter.

Hanya saja, sambung dia, ada juga warga dengan posisi rumah berlantai rendah.

Kejadian yang bersamaan di Desa Ajikuning Kecamatan Sebatik Tengah. Desa ini juga menjadi langganan banjir apabila hujan deras atau berlangsung secara terus menerus.

Baca Juga:  2019, 1.078 Pesawat Berangkat Pada 6 Bandara di Kaltara

Alasannya pun sama yakni selokan pada setiap jalanan tidak mampu menampung aliran air yang cukup deras dan volimenya cukup tinggi.

Akibatnya, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum tergenang hingga setinggi paha orang dewasa.

Hal ini diungkapkan, Ishak, warga Desa Seberang yang terkena dampaknya karena rumahnya berbatasan dengan Desa Ajikuning.

Ishak menyatakan, ketidakmampuan selokan yang sempit dan rendah menjadi penyebab banjir sering menggenangi desa itu yang berada di dataran rendah.

Namun dia akui pula, banjir cepat surut apabila tidak hujan lagi. Hanya saja, jika hujan terus berlangsung maka air tetap bertahan atau tidak cepat surut.

Sebab arah pembuangan ke sungai terdekat pun ukurannya kecil dan dangkal sehingga tidak mampu menampung air dari sejumlah arah.

Baca Juga:  Tokoh Masyarakat Sebatik Dukung Zainal-Yansen

Desa Ajikuning yang sering tergenang air setiap hujan deras berada di pusat pemerintahan desa karena posisinya berada di dataran rendah. Disekitarnya perbukitan maka dipastikan air mengarah ke dataran rendah, beber Ishak.

Kedua warga ini menginginkan adanya solusi yang tepat penanganan tradisi banjir pada kedua desa dengan kecamatan yang berbeda tersebut segera ditangani.

Harapannya, agar tidak terjadi kerugian material yang lebih besar atau korban jiwa. Tidak tertutup kemungkinan, jika kondisi ini dibiarkan akan berdampak besar bagi warga setempat. (***)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here