Bayi Meninggal Dunia, Dokter RSUD Nunukan Diduga Lakukan Malpraktek

NUNUKAN (berandatimur.com) – Keluarga bayi yang meninggal dunia pasca operasi di RSUD Nunukan, Kalimantan Utara diduga kuat dokter yang menanganinya melakukan malpraktek.

Bayi bernama Yupal anak dari Silverster Da Costa beralamat di Kecamatan Tulin Onsoi Kabupaten Nunukan.

Moses Sitti, selaku keluarga korban saat ditemui di Nunukan, Kamis (27/12) menilai, penanganan korban oleh tim medis RSUD Nunukan ditengarai telah melanggar.

Sebab, lanjut dia, bayi berusia tiga bulan 21 hari awalnya hanya menangis secara terus menerus di atas KM Bukit Siguntang saat hendak pulang ke kampung halamannya di Kupang, NTT pada 21 Desember 2018.

Moses Sitti (kanan) dan Blasius Kabaeni (kiri) selaku penerima kuasa dari orangtua korban, Kamis (27/12).

 

Akibat tangisan bayi ini, orangtua korban memutuskan untuk membawa ke RSUD Nunukan untuk dirawat, kata Moses.

Baca Juga:  Industri migas minta pers kerja sama hadapi hoaks

Setelah tiba di RSUD Nunukan, korban mendapatkan penanganan medis menggunakan infus.

Moses menjelaskan, sesuai keterangan orangtua bayi ini adalah dokter yang menanganinya beralasan mencari urat nadi untuk memasang infus makanya membelah pangkal paha bagian kiri untuk mencari urat nadinya.

Penanganan medis ini dianggap melanggar yang dikategorikan malpraktek, yang menyebabkan bayi ini meninggal dunia hanya berselang beberapa menit kemudian.

“Saya sebagai orang awam soal kedokteran menilai langkah yang dilakukan dokter operasinya telah melanggar,” terang Moses didampingi Blasius Kabaeni yang juga keluarga korban.

Moses juga mempertanyakan obat yang diberikan oleh dokter yang menanganinya. “Resep obat yang diberikan kepada orangtua korban pun jadi tanda tanya besar,” kata dia.

Baca Juga:  Dikhawatirkan Pasien Terpapar Covid-19, ŔSUD Nunukan Tiadakan Jam Besuk Pasien

Orangtua korban yang bekerja di PT KHL Tilik Onsoi keberatan atas penanganan dokter di RSUD Nunukan karena tidak dilakukan diagnosa penyakit terlebih dahulu.

Tetapi langsung dibelah bagian pangkal paha yang diduga kuat penyebab kematian bayi ini.

Moses bersama Blasius Kabaeni mengaku, telah berusaha menghubungi Direktur RSUD Nunukan, Dr Dulman untuk meminta penjelasan kasus ini.

Hanya saja, beberapa kali dihubungi melalui telepon selulernya tidak memberikan jawaban.

“Saya berulang kali telepon pak Dulman sebagai Direktur RSUD Nunukan tapi tidak pernah ada jawaban,” beber Blasius yang dibenarkan Moses Sitti.

Anehnya lagi, kata keduanya, tim medis melarang korban dikebumikan di Pulau Nunukan. Padahal, orangtua dan keluarga menginginkan dimakamkan di pulau ini.

Baca Juga:  LAWAN COVID-19! Pasien Positif COVID-19 di Nunukan Bertambah 15 Orang, Total 24 Kasus

Pertimbangan pihak keluarga korban, apabila dimakamkan di Kecamatan Tulin Onsoi karena korban meninggal dunia pada malam hari.

Selain itu, keluarga dan orangtua korban harus mengeluarkan biaya transportasi lagi.

Beberapa keanehan soal kasus meninggalnya bayi ini diduga kuat akibat malpraktek, maka pihak keluarga akan menempuh jalur hukum.

“Kami dari pihak keluarga akan tempuh jalur hukum. Karena kuat dugaan terjadi malpraktek,” tegas dia. (***)

Editor: M Rusman

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here