BI: Rupiah Tertekan Sejak Pertengahan Juni

Makassar (berandatimur.com) – Bank Indonesia (BI) mengakui, nilai tukar rupiah mengalami tekanan sejak pertengahan Juni 2018 yang dipicu oleh penguatan dolar AS yang terjadi dalam skala global.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Agusman Zaenal melalui siaran persnya kepada berandatimur.com, Jumat menjelaskan, nilai tukar rupiah sempat tren menguat hingga pertengahan Juni 2018 pada kisaran Rp13.853 per USD pada 6 Juni 2018.

Dampak ini sebagai respons atas kebijakan pre-emptive, front-loading, dan a head of the curve Bank Indonesia pada akhir Mei 2018.

Namun, perubahan stance kebijakan the Fed pada FOMC pertengahan Juni 2018 yang lebih agresif ditambah respons kebijakan bank sentral lain yang berubah khususnya di Uni Eropa dan Tiongkok, dan ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat menjadi pemicu pelemahan hampir seluruh mata uang di dunia termasuk rupiah.

Baca Juga:  Pedagang keluhkan kenaikan harga sejumlah barang jelang Idul Fitri 

Agusman Zaenal menyebutkan, per 28 Juni 2018, rupiah tercatat Rp14.390 per USD atau melemah 3,44% (ptp) dibandingkan dengan level akhir Mei 2018.

Sementara membandingkan pada akhir Desember 2017, rupiah melemah 5,72% (ytd), lebih rendah dibandingkan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brazil, dan Turki.

Ke depan, lanjut dia, BI akan terus mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya.

Kemudian, menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan.

Meskipun nilai tukar rupiaj melemah, tetapi inflasi tetap terkendali dalam kisaran 0,21 persen pada Mei 2018 atau meningkat dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,10 persen seiring memasuki bulan Ramadhan 1439 Hijriyah.

Baca Juga:  Ayo Tukarkan Cepat Uang Kertas Bergambar 4 Pahlawan Ini.

Terkendalinya inflasi pada IHK didukung oleh stabilnya inflasi inti yang tidak terlepas dari konsistensi kebijakan yang ditempuh BI dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar rupiah.

“Koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat,” sebut Kepala Departemen Komunikasi BI tersebut.

Ia mengutarakan juga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2018 tetap baik karena didukung oleh permintaan domestik.

Dimana pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap terjaga  berkat didukung perbaikan pendapatan dari stimulus fiskal dan inflasi yang terjaga, serta kenaikan keyakinan konsumen menengah atas.

Baca Juga:  Harga sejumlah bahan pangan turun, pedagang pasang label harga karena persaingan

Tidak terlepas pula oleh konsumsi yang kuat, tercermin dari penjualan kendaraan bermotor dan penjualan ritel yang membaik.

Sementara itu, investasi diperkirakan tetap kuat terutama didukung oleh investasi bangunan swasta dan proyek infrastruktur, serta investasi  non bangunan terkait infrastruktur dan pertambangan.

Penguatan investasi yang tetap kuat tersebut tergambar pada indikator penjualan semen dan alat berat yang meningkat, katanya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here