Dua Karhutla di Nunukan, Begini Penjelasan BMKG

NUNUKAN (berandatimur.com) – Dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara pada Kamis (28/2) sore. Namun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan tidak mendeteksi melalui satelit.

Lokasi pertama di depan Rumah Jabatan Sekda Nunukan Jalan Ujang Dewa Kelurahan Nunukan Selatan pada koordinat 4.5.31 N dan 117.423115,2 M 309 E sekira pukul 15.02 wita.

Lokasi kedua pada salah satu lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Sebuku pada koordinat 3.5937836 N dan 117.1643692 E sekira pukul 14.36 wita.

Karhutla di Jalan Ujang Dewa Kelurahan Nunukan Selatan berdasarkan informasi dari Hasanuddin dari Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan dan laporan aparat kepolisian Polsek Sebuku.

Baca Juga:  Nunukan "Dikepung" Tiga Daerah Rawan Gempa. BMKG: Apabila Gempa di Semporna Malaysia Paling Berdampak

Muhammad Taufik dari BMKG Nunukan, Kamis menyatakan, karhutla pada kedua lokasi ini tidak terdeteksi satelit dengan berbagai alasan. Pertama, cara kerja Satelit Himawari BMKG Geo hotspot/Lapan/Radar Terra, Aqua, SNPP mendeteksi titik api sesuai dengan derajat panas suhu sekitar lokasi.

Untuk jangkauan area terindetifikasi ada titik api atau karhutla dengan persentase dan warna coklat untuk sebaran asap. JIka tidak terdeteksi hotspot disebabkan adanya tutupan awan dan luasan kawasan skala kecil yang menyebabkan perbedaan suhu derajat panas tidak signifikan, jelas Taufik.

“Adanya tutupan awan dan luasan area kawasan skal kecil yang menyebabkan perubahan suhu derajat panas sehingga hotsopot daerah sekitar tidak terdeteksi satelit,” ujar dia menanggapi adanya kejadian karhutla di Kabupaten Nunukan tanpa terdeteksi satelit.

Baca Juga:  Jangan Percaya Informasi Hoax, BMKG: Penyebab Kabut Asap Bukan Karhutla di Nunukan

Ia juga menyatakan, logikanya apabila area terbakar suhu tinggi namun disekitarnya berawan sehingga sinyal suhu yang diterima dari daerah hamparan luas dan lapang tertutup awan akan mengurangi persentase akurasi titik hotspot.

“Kalau area lokasi ditandai dengan warna merah serta akurasi 80 persen satelit langsung mendeteksi lokasi dan koordinat serta wilayahnya karena derajat panas daerah tersebut melebihi area sekitarnya seperti di Kecamatan Sebuku,” terang Taufik. (***)

Editor : M Rusman

Chats

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here