Gara-gara Indonesia, Malaysia alami “kiamat” kekurangan pekerja

Malaysia Kesulitan Pekerja Gara-Gara Indonesia
Calon TKI tujuan Sabah, Malaysia bersama-sama anak-anaknya turun dari KM Thalia di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Senin (19/9). FOTO: M Rusman

Jakarta – Malaysia kini diterpa kelangkaan pekerja migran hingga mengalami “kiamat” ditengarai kurangnya suplai dari Indonesia. Akibatnya, perusahaan perkebunan kelapa sawit hingga semikonduktor di negeri jiran ini terpaksa menolak pesanan produk yang mencapai miliaran penjualan.

Dikutip dari Reuters pada Selasa 14 Juni 2022, Malaysia selaku produsen mengalami kekurangan 1,2 juta pekerja masing-masing 500.000 pekerja untuk konstruksi, 12.000 orang untuk perkebunan kelapa sawit, 15.000 pekerja untuk chip, 12.000 orang lainnya untuk produksi sarung tangan medis.

Presiden Federasi Produsen Malaysia, Soh Thian Lai, yang mewakili lebih dari 3.500 perusahaan menyebutkan sejumlah perusahaan di negaranya mengalami hambatan dalam produksi untuk memenuhi pesanan.

Baca Juga:  Kasihan! TKI deportasi ini gangguan jiwa sempat dipenjara 4 tahun di Malaysia

“Situasinya mengerikan dan sangat mirip dengan permainan sepak bola melawan 11 orang tetapi hanya diizinkan untuk memasukkan tujuh orang,” ungkap Soh.

Pada April 2022, perusahaan di Malaysia telah meminta izin untuk memasukkan 475.000 pekerja migran. Namun Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia, yang bertanggung jawab untuk menyetujui penerimaan pekerja asing, hanya menyetujui 2.065 orang saja.

Padahal Pemerintah Malaysia telah mencabut larangan perekrutan pekerja asing pada Februari 2022 akibat pandemi COVID-19. Hal ini berdampak dari lambatnya negosiasi soal perlindungan pekerja dengan sejumlah negara asal pekerja migran seperti Indonesia dan Bangladesh.

Kementerian Kesejahteraan Ekspatriat dan Ketenagakerjaan Luar Negeri Bangladesh, Imran Ahmed menyatakan negaranya fokus pada kesejahteraan dan hak-hak pekerjanya.

Baca Juga:  Di akhir masa jabatan sebagai Konjen RI Kota Kinabalu, Krisnha Djelani dianugrahi Bintang Kebesaran TYT Negeri Sabah

“Kami memastikan mereka mendapatkan upah standar, mereka memiliki akomodasi yang layak, mereka menghabiskan biaya minimum untuk migrasi dan mereka mendapatkan semua jaminan sosial lainnya,” harap dia.

Hal ini dimungkinkan adanya rilis Amerika Serikat (AS) yang mencurigai terjadinya perlakuan “kerja paksa” pada sejumlah perusahaan Malaysia dua tahun lalu. Paman Sam sebelumnya juga telah memberi sanksi tujuh perusahaan karena itu.

Meskipun belum ada riset resmi dampak negatif dari perekonomian Malaysia terkait dengan pengaruh “kiamat” pekerja migran ini. Tetapi merujuk indeks PMI manufaktur Malaysia terjadi penurunan dari 51,6 pada April menjadi 50,1 pada Mei.

Tercatat, pada industri kelapa sawit menyumbangkan 5 persen ekonomi Malaysia sehingga tentunya memberikan “warning”. Dimana, perkiraan 3 juta ton panen hilang pada 2022 karena tidak dipanen sehingga mengalami pembusukan, dengan kerugian mencapai US$ 4 miliar lebih.

Baca Juga:  Abdillah Toha sindir empat parpol penimbun minyak goreng untuk kampanye

“Industri sarung tangan karet memperkirakan US$ 700 juta pendapatan yang hilang tahun ini jika kekurangan tenaga kerja terus berlanjut,” tulis Reuters. (***)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here