Flores Timur (BERANDATIMUR.COM) – Seorang lelaki ditemukan tewas tergantung di pohon jambu mente di kebunnya yang terletak di pinggir perkampungan Lewokoli Desa Aransina Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Korban bernama Nikolaus Dance Tukan (31) diketahui seorang staf di Kantor Desa Aransina ditemukan tewas oleh ibu kandungnya pada Selasa, 5 Mei 2020 sekira pukul 17.30 WITA.

Kejadian menggegerkan warga ini karena korban selama ini dikenal pendiam dan suka melucu. Saksi yang menemukan pun langsung melaporkan kepada aparat kepolisian setempat.

Kepala Pos Polisi Tanjung Bunga Aipda Silvester Petrus Diaz  yang dikonfirmasi membenarkan penemuan mayat lelaki yang tergantung. Ketika mendapatkan laporan, dia mengaku, langsung berkordinasi dengan tim identifikasi di Polres Flores Timur untuk melakukan olah TKP.

“Mayat korban pertama kali diketahui oleh satu orang saksi  yaitu mama kandungnya sendiri bernama Teresia Teniba Soge umur 65 Tahun,” ungkap Aipda Silvester.

Aparat Desa Tewas Gantung Diri
Jenazah korban tergeletak di tanah setelah diturunkan dari tali gantungannya di pohon jambu mente oleh aparat kepolisian dibantu warga setempat, Selasa malam (5/5). Photo: Fan Lalewang/BERANDATIMUR.COM

Kronologi kejadiannya, ungkap Kapospol Tanjung Bunga ini,  bermula saat ibu kandung korban ke kebun miliknya hendak memberi makan ternaknya (babi).

Sesampainya di kandang ternaknya, ibu kandungnya bercerita, tiba-tiba kaget ketika melihat anaknya tergantung dan sudah tidak bernyawa lagi.

Baca Juga:  Pemkab Flores Timur serahkan 12 SK ASN purna bhakti, Asisten I: Terima kasih atas pengabdiannya

Pada saat itu, korban mengenakan celana pendek jeans warna hitam dan baju putih.

Posisi korban tergantung tak jauh dari kandang ternaknya dengan menggunakan tali warna merah yang terikat pada dahan jambu mente, ungkap Silvester menirukan ucapan ibu kandung korban.

Ia melanjutkan, saat melihat anaknya tergantung saksi sempat memanggil korban dengan berteriak anaaaaakkkk…

Tak lama ibu kandung korban berteriak memberitahu warga. Akhirnya aparat kepolisian dan warga setempat menurunkan jenazah korban dari gantungannya.

“Kita koordinasi juga dengan tim identifikasi dari Polres Flores Timur untuk datang ke lokasi ‘’ imbuh dia.

Selanjutnya jenazah korban langsung dibawa oleh tim medis ke Puskesmas Waiklibang untuk divisum. Bahkan sempat ada rencana untuk diotopsi, tapi pihak keluarga menolak.

Proses evakuasi jenazah korban
Suasana proses evakuasi jenazah korban aparat Desa Aransina yang ditemukan tewas gantung diri di kebunnya pada Selasa malam (5/5). Photo: Fan Lalewang/BERANDATIMUR.COM

Dari hasil penyidikan sementara, korban meninggal dipastikan karena gantung diri. Karena tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya.

Penolakan keluarganya untuk diotopsi dengan membuat surat pernyataan karena menganggap kematian korban sudah takdir.

Ibu kandung korban bernama Teresia Teniba Soge bercerita bahwa pada hari kejadian sekira pukul 08.00 WITA pagi dirinya ke kebun petik padi dan pulang ke rumahnya sekira pukul 16.00 WITA. Melihat korban dalam keadaan sehat seperti biasanya.

Baca Juga:  Protitusi online marak di Larantuka, Flores Timur, wanitanya korban perdagangan orang 

Setibanya di rumah, korban diketahui kemana. Dikiranya pergi pesiar ke rumah temannya. Sekira pukul 17.00 WITA kembali ke kebunnya untuk memberi makanan kepada ternaknya tiba-tiba melihat anaknya tergantung dan bernyawa lagi, kenang Teresia.

Sedangkan ayah kandung korban, Yosep Padak Tukan (55), mengaku merasa sedih melihat anaknya yang nekat menghabisi nyawanya dengan cara gantung diri.

Karolus Malik, Sekretaris Desa Aransina yang juga rekan kerja korban merasa menyesal namun tak bisa berbuat apa-apa.

“Kami dari keluarga menerima apa adanya mungkin ini ajalnya kami ikhlas kami tolak untuk dilakukan utopsi,” ucap Karolus yang juga paman korban.

Kemudian, Ketua BPD Aransina, Paulus Bela Kolin mengatakan selama hidupnya korban bekerja di Kantor Desa Aransina tidak pernah melihat ada masalah dengan korban berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugasnya di kantor.

Oleh karena itu, pihak keluarga sangat kaget atas peristiwa ini yang menghabisi nyawanya dengan cara gantung diri. Ketua BPD mengharapkan, peristiwa semacam ini tidak terulang lagi bagi perangkat desanya yang lain.

Baca Juga:  8 TKI non prosedural dipulangkan dari Sabah tiba di Flotim-Lembata

“Kalau memang ada persoalan yang luar biasa maka bisa dicari solusi yang terbaik. Perangkat desa itu sudah dipercaya oleh maayarakat,” ucap dia.

Sedangkan Kepala Desa Aransina, Lambertus Udin Koten juga mengaku kaget pertama kali mendengar kabar bahwa korban tewas gantung diri. “Kejadian perangkat kami gantung diri kami merasa bingung,” ucap dia.

Menurut penilaiannya, korban selama ini berperangai baik, sosoknya pendiam, kinerja bagus dan suka lucu di kantor.

Korban sudah mengabdi sebagai perangkat desa dengan jabatan terakhir Kasi Kemasyarakatan sejak 2015.

“Saya Kepala Desa Aransina atas nama Pemerintah Desa Aransina mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada almarhum Nikolas Dance Tukan atas pengabdiannya selama ini. Banyak sekali program-program baik yang telah dilaksanakannya,” ungkap Lambertus. (*)

Editor: Muhammad Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here