Guru-guru SMAN Jampea Selayar Kompak Ingin Lengserkan Kepseknya

Selayar (berandatimur.com) – Guru-guru di SMAN 4 Pulau Jampea Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel kompak ingin melengserkan kepala sekolahnya karena dianggap kebijakannya tidak sesuai kondisi di sekolah tersebut.

Seorang guru yang menandatangani surat protes terhadap Kepsek SMAN 4 Jampea bernama St Rusmia melalui sambungan telepon selulernya, Kamis membenarkan, semua guru baik status PNS maupun PTT atau honorer tidak senang dengan kepsek baru tersebut dengan berbagai alasan.

Sesuai surat yang ditandatangani yang telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulsel dan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Selayar ini didalamnya disebutkan sejumlah alasan yang menjadi pokok permasalahannya.

Diantaranya, kepsek menolak membiayai kegiatan sekolah, tidak memberikan rekomendasi kelulusan bagi siswanya yang telah mengikuti Ujian Nasional guna mendaftar di perguruan tinggi.

Rusmia menyatakan, kebijakan kepsek baru bernama Patta Rahmat ini sangat jauh berbeda dengan kepsek yang digantikannya.

Kepsek SMAN 4 Jampea sekarang mulai bertugas sejak Januari 2018 sejal dilantik pada Desember 2017.

“Banyak kebijakan kepsek baru ini (Patta Rahmat) yang tidak disenangi oleh guru-guru makanya ramai-ramai mau minta diganti,” ujar dia.

Baca Juga:  KPK Monitor Nunukan Terkait Potensi Tipikor
Tanda tangan guru-guru SMAN 4 Jampea Kabupaten Kepulauan Selayar diketahui Ketua Komite Sekolah, Muh Dahris keberatan atas kebijakan Kepseknyam

Sementara Kepsek SMAN 4 Jampea, Patta Rahmat yang dihubungi melalui telepon selulernya pada hari yang sama mengaku telah dipanggil oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Selayar mengklarifikasi masalah ini.

“Benar pak. Tapi saya sudaj dipanggil oleh cabang dinas (pendidikan) mengklarifikasi permasalahan tersebut soal surat dari guru-guru dan komite sekolah itu,” ujar Patta Rahmat.

Ia menjelaskan, sejak menjabat kepsek di sekolah itu memang banyak kebijakannya yang tidak diterima oleh guru-guru baik PNS maupun honorer.

Yaitu soal pendisiplinan proses belajar mengajar (PBM) dimana pukul 07.30 wita semua telah berada dalam ruang kelas melaksanakan PBM.

Soal pendisiplinan PBM ini baik guru dan siswa sangat penting dan tidak bisa dilakukan setengah hati, kata dia.

Patta Rahmat mengaku, ditempatkan menjadi pimpinan di sekolah itu memang diberikan tugas mengubah kebijakan pola lama kepsek sebelumnya dimana PBM dilaksanakan asal-asalan.

Tenaga guru dan siswa siswi pulang dan hadir di sekolah sesuai keinginannya. Sedangkan dirinya, lanjut dia, tidak terima sistem PBM semacam itu sehingga memberikan ganjaran kepada guru ataupun siswa yang terlambat datang di sekolah.

Baca Juga:  TKI Asal Samarinda Dilaporkan Meninggal di Solomon

Selama menjadi Kepsek SMAN 4 Jampea, dia menerapkan hukuman kepada siswa yang terlambat datang di sekolah dengan beberapa pilihan seperti memungut sampah, push up dan menghafalkan surat-surat Al Quran.

Bahkan klaim Patta Rahmat, kebijakannya tersebut telah disambut baik oleh orangtua siswa. Hanya saja tenaga guru honorer yang melakukan provokasi kepada guru-guru lainnya karena kebijakan pengurangan jam mengajar apabila malas masuk di kelas..

Tanda tangan guru-guru SMAN 4 Jampea Kabupaten Kepulauan Selayar

“Memang mulai dari awal saya sudah tekankan kepada guru honorer khususnya yang sertifikasi bahwa kalau malas masuk mengajar maka jam mengajarnya diberikan kepada guru honorer yang lain,” beber dia.

Patta Rahmat juga menjelaskan soal tudingan guru-guru soal penolakannya memberikan rekomendasi kelulusan kepada siswa yang telah UN untuk mendaftar di perguruan tinggi.

Menurut dia, kepsek tidak berhak menerbitkan rekomendasi kelulusan kecuali relomendasi telah mengikuti UN. “Saya sudah 14 tahun jadi kepsek tidak pernah mengeluarkan rekomendasi kelulusan tapi hanya rekomendasi telah mengikuti ujian nasional bagi siswa siswi yang mau mendaftar di perguruan tinggi,” terang dia yang mengaku sedang berada di sekolahnya saat dihubungi media ini.

Baca Juga:  PTN, PT Agama dan PHI Kaltara Segera Terbentuk

Jadi, keberatan tenaga guru dan komite karena tidak terima kebijakan mendisiplinkan PBM semata dengan membuat petisi yang dikirim tertanggal 23 Agustus 2018 yang ditandatangani St Rusmia, mewakili guru PNS, Fitriah mewakili guru honor dan Ketua Komite Sekolah bernama Muh Dahris. (***)

Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here