Hati-hati! Merayu dan siulan pada perempuan di sekolah agama tergolong kekerasan seksual

Jakarta (BERANDATIMUR) – Sesuai Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama, merayu dan bersiul kepada perempuan termasuk kekerasan seksual.

Alasannya dalam rangka penanganan dan pencegahan terjadinya tindak kekerasan seksual di sekolah formal dan non formal yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Seperti pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya.

PMA Nomor 73 Tahun 2022 ini ditandatangani oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 5 Oktober 2022 dan mulai diundangkan sehari setelahnya.

Baca Juga:  Sejumlah Politisi Gerindra Diduga Ikut Andil Proyek Ekspor Benih Lobster

“Setelah melalui proses diskusi panjang, kita bersyukur PMA tentang Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama akhirnya terbit dan sudah diundangkan per 6 Oktober 2022,” sebut Juru Bicara (Jubir) Kemenag Anna Hasbie dalam siaran pers dikutip Selasa 18 Oktober 2022.

Sesuai namanya, PMA ini mengatur tentang upaya penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di satuan Pendidikan pada Kementerian Agama.

Satuan Pendidikan itu mencakup jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal, serta meliputi madrasah, pesantren, dan satuan pendidikan keagamaan.

PMA ini terdiri atas tujuh bab, yaitu: ketentuan umum; bentuk kekerasan seksual; pencegahan; penanganan; pelaporan, pemantauan, dan evaluasi; sanksi; dan ketentuan penutup. Total ada 20 pasal.

Baca Juga:  Sarimaya (Caleg DPR RI) : Partai Berkarya Memberi Bukti Bagaimana Membangun Ekonomi Rakyat

PMA ini, kata Anna, mengatur bentuk kekerasan seksual mencakup perbuatan yang dilakukan secara verbal, nonfisik, fisik, dan/ atau melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Setidaknya 16 klasifikasi bentuk kekerasan seksual, termasuk menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender korban.

“Menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bernuansa seksual pada korban juga termasuk bentuk kekerasan seksual,” jelas Anna.

Sumber: kumparan
Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here