Pelaku UMKM di Nunukan mengeluh, gas elpiji 3 kg langka dan harga melambung

Nunukan (BERANDATIMUR) – Dilema yang dialami masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kaltara kembali terjadi. Tradisi kelangkaan pada sektor pertambangan seperti bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji kembali terjadi.

Sebelumnya, pekan lalu antrean panjang pengguna kendaraan di APMS untuk mendapatkan BBM yang berlangsung berhari-hari, sekarang gas melon atau elpiji 3 kilo gram lagi yang langka.

Kelangkaan elpiji bersubsidi ini dikeluhkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Pulau Nunukan. Seperti yang diutarakan Arman pada Rabu, 10 Agustus 2022 bahwa ketiadaan gas elpiji 3 kilogram sejak beberapa hari terakhir. Meskipun sempat ada suplai pekan lalu dari PT Pertamina tetapi tidak menutupi kelangkaan tersebut yang sudah berlangsung lama di daerah itu.

Bukan hanya dirinya yang mengeluhkan kelangkaan dan tingginya harga gas melon ini. Tetapi hampir semua pelaku UMKM di sepanjang Jalan Lingkar mengalami hal yang sama, ujar pemilik warung makan di Jalan Lingkar RT 17 Kelurahan Nunukan Timur ini.

Baca Juga:  Diselundupkan ke Malaysia?, TKI ilegal ini meninggal dunia di penjara Tawau

Ia menuturkan, kelangkaan gas elpiji jenis melon ini sangat menghambat usaha miliknya yang bergerak pada sektor kuliner yakni warung makan dan pembuatan makanan ringan seperti kue-kue tradisional. “Memasak air panas saja susah karena tidak ada gas tiga kilo yang dijual lagi,” ungkap Arman.

Selama terjadi kelangkaan gas melon ini, harga ecerannya mencapai Rp40.000-Rp50.000. Arman pun sangat menyayangkan terjadinya kelangkaan gas elpiji ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang ini susah lagi gas tiga kilo, kalaupun ada yang dijual itupun sangat jarang, harganya juga mahal sekali sampai 50 ribu,” keluh dia.

Pelaku UMKM lainnya yang menolak identitasnya dipublikasikan, salah seorang penjual gorengan di Jalan Pattimura. Ia mengaku sangat kecewa terjadinya kelangkaan gas elpiji 3 kilogram lagi di Kabupaten Nunukan.

Perempuan ini mengaku tidak menyangka kelangkaan terjadi lagi yang menyebabkan melambungnya harga elpiji bersubsidi ini. Akibatnya, pelaku usaha kecil sepertinya dirinya dipastikan mengeluhkan keadaan tersebut.

Baca Juga:  Hasil tes PCR positif, TKI deportasi dari Malaysia terpapar COVID-19

Ketika ditanya apakah ada permainan ditingkat agen atau distributor? Ibu ini dengan memperlihatkan wajah kecutnya menjawab tidak tahu lagi. Semestinya, pemerintah daerah Kabupaten Nunukan sigap dan sensitif menyelesaikan permasalahan seperti ini.

Menurut dia, jika kelangkaan dan mahalnya gas melon berlangsung lama maka tidak menutup kemungkinan banyak yang gulung tikar. Alasannya, pelaku UMKM hanya modal kecil yang ditopang semangat untuk memperbaiki ekonomi keluarga semata.

Pejual gorengan yang sudah berlangsung sejak pandemi COVID-19 ini menegaskan, kelangkaan elpiji 3 kilogram ini akan mengancam usahanya. Sebab tidak mampu membeli elpiji 14 kilogram asal Malaysia karena harganya melambung tinggi juga hingga mencapai Rp350.000 sampai Rp400.000.

“Cuma satu hari saja gas tiga kilo (gram) langsung tidak ada lagi dijual. Kita tidak tahu dikemanakan,” ujar dia.

Begitu juga pedagang kelontongan (sembako) atau lebih dikenal kios Buton mengaku, tidak menjual gas elpiji tiga kilogram sejak beberapa hari ini karena terbatasnya jatah yang diberikan dari agen.

Baca Juga:  SPPBE Tarakan diharapkan atasi ketergantungan gas elpiji dari Malaysia

“Tidak seperti dulu-dulu pak, biasa bisa dapat dari agen empat sampai lima tabung setiap ada yang datang,” ujar dia sambil meminta namanya dirahasiakan.

Agen gas elpiji 3 kilogram yang terletak Pasar Baru Kelurahan Nunukan Utara ditemukan masih memiliki stok. Namun pemilik agen menanyakan kartu.

Kartu yang dimaksudkan entah apa maksud dan tujuannya. Saat ditanya apakah masih ada gas 3 kilo gram, ibu yang ditengarai pemilik agen tersebut menjawab “ada”.

“Gas masih ada, ada kartunya? Kalau tidak ada (kartu) tidak dilayani,” ucap ibu tersebut sambil berlalu masuk ke kamarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here