Imam Masjid New York, Shamsi Ali
Oleh: Shamsi Ali, Imam Masjid New York USA
Sebuah keputusan itu tidak selamanya menyenangkan. Jangankan keputusan manusia, keputusan Allah saja, jika tidak sesuai keinginan dan kepentingan rasanya tidak menyenangkan dalam rasa kemanusiaan kita.
Tapi percayalah, tak satupun keputusan yang diambil tanpa  intervensi langit. Semua keputusan yang telah menjadi fakta di hadapan mata adalah pilihan terbaik, walau terasa pahit.
Keputusan manusia itu tidak selamanya menggambarkan kebenaran. Sudah pasti tidak selalu menggambarkan fakta dan realita. Kebenaran sejati, fakta dan realita sesungguhnya akan terlihat pada hari di saat tak seorangpun yang mampu mengelak dari kebenaran (haq) itu sendiri.
Pada hari itulah yang benar akan terlihat sebuah kebenaran dan kesalahan tetap salah. Tak akan ada lagi trik-trik untuk membolak balik realita agar kebenaran menjadi salah begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu kejujuran menjadi dirinya sendiri. Tidak lagi bisa dirampok dan diperkosa.
Sehubungan pasca keputusan politik di negeri ini, kesadaran seperti itu harus terbangun. Perlu diketahui keputusan duniawi bukan keputusan abadi. Ada masanya terkoreksi dan dipertanggungjawabkan.
Untuk itu, bagi pendukung paslon 02, keputusan Mahkamah Konstitusi pasti pahit dalam rasa kemanusiaan itu. Tapi yakinlah, ketika rasa itu dibingkai dengan iman, maka akan mulai tumbuh rasa manis itu.
Sedangkan bagi pendukung paslon 01, sudah pasti keputusan MK itu manis dalam rasa kemanusiaan. Tapi percayalah ketika manisnya rasa itu tidak ditempatkan pada posisinya maka lambat laun manis itu membawa penyakit “diabetis” yang mematikan.
Penulis menyarankan pada kedua pendukung paslon:
– Terima keputusan MK itu sebagai “Qadar” Allah yang merasa menang jangan angkuh dan merasa kalah jangan galau. Sebuah kepastian langit kerap tidak kita ketahui maknanya.
– Tantangan ke pendukung masing-masing adalah bagaimana “merespon” secara benar dan sesuai. Bagi pemenang dengan kesyukuran dan tawadhu dan yang belum menang dengan sabar dan muhasabah. Sikap keduanya pasti membawa kebaikan.
– Tanggungjawab terbesar sekarang adalah “MENGAWAL”. Kedua pihak memiliki tanggungjawab mengawal hasil dari keputusan tersebut.
Paslon 02 dan pendukungnya melakukan pengawalan dari seberang. Biasanya diistilahkan dalam bahasa politik sebagai “oposisi”. Sementara tanggungjawab pendukung paslon 01 jauh lebih besar dan berat. Karena sesungguhnya mereka wajib mengawal dukungannya agar tidak menjadi jembatan kemurkaan.
Pendukung pemenang harus memastikan bahwa dukungan itu mengantar kepada kemuliaan.
Kesimpulannya, dari sekarang mari kita KAWAL pemerintahan itu lima tahun ke depan. Ingat, dalam tatanan demokrasi rakyat adalah pemilik kekuasaan tertinggi.
Jika kekuasaan itu dibalut dalam selimut keimanan, maka rakyat adalah representasi kekuasaan Ilahi.
Jangan rendahkan apalagi khianati rakyat. Karena itu keangkuhan terbesar kepada Allah, Penguasa langit dan bumi.
New York City, 28 Juni 2019
* Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here