Korban pemerkosaan Ustadz Herry Wirawan, ada santri sudah dua kali dihamili

Kasus Pemerkosaan Puluhan Santri di Pondok Pesantren Cibiru, Bandung
FOTO: Ilustrasi

Bandung (BERANDATIMUR) – Salah seorang santri korban rudapaksa (pemerkosaan) yang dilakukan Herry Wirawan, pimpinan/pengasuh Pondok Pesantren di Cibiru, bandung, Jabar mengaku telah dua kali dihamili dan kini sudah memiliki dua anak.

Santri tersebut baru berusia 14 tahun dan terakhir melahirkan anak hasil perzinahan dengan gurunya pada November 2021. Anak pertamanya sudah berusia berusia 2,5 tahun.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Diah Kurniasari Gunawan dikutip dari Tribunnews pada Minggu, 12 Desember 2021.

Ia pun menawarkan untuk merawat kedua anak hasil perkosaan ustadz di pondok pesantren tersebut. Namun korban tidak ingin dipisahkan dengan kedua anaknya.

Kedua anak korban berjenis kelamin perempuan. “Saya nengok ke sana (rumahnya), menawarkan (bantuan) kalau enggak sanggup merawat, ternyata mereka tidak ingin dipisahkan anaknya, dua-duanya perempuan,” kata Diah.

Baca Juga:  Kasus pemerkosaan 12 santriwati, Polda Jabar akui sengaja tutupi

Dari belasan santri jadi korban pemerkosaan ustadz Herry Wirawan tersebut, 11 diantaranya dari Kabupaten Garut, Jawa Barat. Mereka masih ada pertalian saudara serta bertetangga.

Diah merasakan betul rasa kecewa, marah, dan perasaan yang berkecamuk dari belasan orangtua santri karena anaknya menjadi korban perkosaan gurunya sendiri di pondok pesantren.

Diah sendiri menyaksikan pilunya momen pertemuan para orangtua dengan anak-anaknya.

Anak-anak itu sebelumnya dianggap tengah menuntut ilmu di pesantren ternyata telah memiliki anak setelah dicabuli guru ngajinya yang mereka percaya dan hormati sebelumnya.

Baca Juga:  KPK beberkan 239 anggota DPR RI belum laporkan LHKPN

“Rasanya bagi mereka mungkin dunia ini kiamat, ada seorang bapak yang disodorkan anak usia 4 bulan oleh anaknya, enggak, semuanya nangis,” kenang Diah.

Peristiwa pilu itu terjadi saat dirinya mengawal pertemuan para orangtua dengan anak-anaknya di Kantor P2TP2A Bandung, setelah dibawa keluar dari lingkungan pondok pesantren oleh penyidik Polda Jabar.

Kondisi yang sama, kata Diah, terjadi juga di Kantor P2TP2A Garut saat orangtua yang tidak tahu anaknya menjadi korban pemerkosaan gurunya di pesantren bahwa anaknya turut menjadi korban.

Menurut Diah, orangtuanya sangat berat menerima kenyataan anaknya jadi korban pemerkosaan dan sudah punya anak. Tampak para orangtua juga kebingungan membayangkan masa depan anak-anaknya dan tidak bisa diterima di lingkungan tempat tinggalnya.

Baca Juga:  Belasan santriwati pesantren di Bandung melahirkan, diperkosa guru agama sendiri

“Di kecamatan ini (lingkungan rumah korban), saya sampai datang beberapa kali nengok yang lahiran, ngurus sekolahnya, ketemu tokoh masyarakatnya,” katanya.

Dikabarkan sebelumnya terdapat 21 santriwati menjadi korban pemerkosaan guru pesantrennya di Pondok Pesantren Madani Boarding School, Kota Bandung, Jawa Barat.

Mereka trauma berat dan juga hamil hingga melahirkan anak. (*)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here