Peserta dan pemateri "heritage walk" foto bersama di Hotel Dinasty Makassar, Minggu (14/4)

Makassar (BERANDATIMUR.COM) – Lembaga Lingkar bekerja sama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan menggelar “heritage walk” untuk memperkenalkan situs sejarah dan kebudayaan Kota Makassar berlangsung di Hotel Dinasti 13-14 April 2018.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan seminar dan kunjungan langsung ke beberapa situs sejarah di daerah Pecinan ” Cina Town” Kota Makassar.

Ketua Umum Lembaga Lingkar, Anna Asriani di Kota Makassar, Minggu (13/4) menekankan pentingnya merawat cagar budaya agar generasi milenial tidak melupakan situs-situs sejarah.

“Fenomena yang justru ada di kawasan perkotaan terutama dibKota Makassar belakangan ini, memperlihatkan bahwa perhatian masyarakat akan bangunan peninggalan bersejarah sangatlah memprihatinkan,” ucap Anna.

Baca Juga:  IARMI IKIP/UNM usung Bahtiar Baso sebagai calon ketua IARMI Sulsel

Berawal dari rasa keprihatinan inilah sehingga melaksanakan “heritage walk” ini agar situs sejarah tidak tenggelam ditelan zaman.

Ia menambahkan, Lembaga Lingkar melakukan ekspos pada media agar generasi muda dan masyarakat pada umumnya berperan serta melestarikan situs-situs sejarah di Kota Makassar.

“Sebenarnya kota kita punya bangunan-bangunan lama zaman kolenial terutama di Pecinan,” kata dia.

Peradaban Kota Makassar sebenarnya punya banyak sejarah yang luar biasa perlu tindakan mempertahankannya melalui pengkajian peninggalan situs sejarah tersebut.

Sosialisasi yang digelar Lembaga Lingkar ini menghadirkan pemateri Drs Laode Muhammad Aksa, MHum (Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan), Dias Pradadimara, MA (Sejarawan Universitas Hasanuddin, Makassar).

Baca Juga:  Bagian Belakang KM Cattleya Penyok Ditabrak KM Prince Soya

Kemudian, Asep Kambali (Sejarawan dan Founder Komunitas Historia Indonesia) dan Yerry Wirawan (Penulis Buku Masyarakat Tionghoa Makassar dan Dosen Universitas Sanatadarma, Yogyakarta).

Salah satu peserta yang hadir, Eryvia Maronie mengaku sangat mengapresiasi kegiatan yang diadakan lembaga Lingkar dan BPCB Sulsel ini.

“Walaupun kita hidup di era teknologi, namun cagar budaya jangan sampai dilupakan,” harap Eryvia.

Ia mencontohkan, Kelenteng Xian Ma dan pasar tradisional di ” Cina Town ” yang termasuk pasar terlama sejak tahun 1935 itu sesuatu yang menarik untuk ditelusuri kembali nilai sejarahnya. (*)

Baca Juga:  Pria Meresahkan Warga, Paksa Emak-emak di Barombong Berikan Sumbangan

Reporter : Atim
Redaktur : M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here