Masjid Salabose Berusia 400 Tahun Tanda Awal Masuknya Islam di Majene

MAJENE (berandatimur.com) – Masjid Salabose yang terletak di Kecamatan Banggae merupakan tanda awal masuknya agama Islam di Kabupaten Majene dan Tanah Mandar pada umumnya di Provinsi Sulawesi Barat.

Masjid yang masih berdiri kokoh dibangun pada abad ke-17 atau tahun 1608 Masehi sebagian ornamen masih utuh dari aslinya.

Muhammad Gaus, penjaga masjid ini di Hanggar, Senin (31/12) menuturkan, berdasarkan jejak sejarah perjalanan Islam di daerah itu dibawa oleh seorang ulama keturunan Arab asal Jawa Timur bernama Syekh Abdul Mannan.

Ulama ini akhirnya dikenal oleh masyarakat di Kabupaten Majene DAN Tanah Mandar sebagai Waliullah (utusan Allah).

“Ulama yang sangat terkenal dan kharismatik bahkan sebagian besar orang Mandar diyakini sebagai ulama yang diutus Allah untuk menjaga Tanah Mandar,” ujar Gaus yang juga keturunan dari ulama ini.

Baca Juga:  ABK SB Dwi Putra 05 Dibebaskan Tanpa Proses Hukum
Warga ziarah di makam Syekh Abdul Manan. FOTO Almadar Fattah.

Ia menceritakan, masjid tua ini terbuat dari adonan telur sebagai bahan perekat bangunan batu pahat.

Sejumlah ornamen peninggalan Syekh Abdul Mannan yang syarat sejuta makna khususnya sebuah relif ukiran dari kayu di tempat imam.

Gaus kembali menceritakan, seluk beluk dibangunnya masjid ini dengan sejumlah ukiran tetap dipertahankan ciri khasnya sampai sekarang. Meskipun telah beberapa kali dilakukan renovasi pada bagian tertentu karena faktor alam.

“Kita sudah sering lakukan perbaikan karena sebagian komponennya sudah mulai lapuk dan rusak berat. Tapi sejumlah ornamen aslinya seperti kubah, dinding batu, menara dan ukiran yang kaya dengan simbol persatuan dan kebersamaan masih tetap dipertahankan,” kata Muhammad Gaus.

Baca Juga:  Mahasiswa Unhas Latih Anak Autis Baddoka
Makam Syekh Abdul Manan. FOTO Almadar Fattah

Masjid ini juga menyimpan sebuah mushaf Al Quran hasil karya atau tulisan tangan Syekh Abdul Mannan yang ditulis sekitar abad ke-16 dengan menggunakan getah pohon.

Musaf purbakala ini dibungkus dengan kulit kambing. Hanya dibuka pada setiap 17 Ramadhan atau malam Nuzulul Quran.

Hal ini dilakukan sebagai tradisi penghormatan dan penghargaan mengenang jasa-jasa Syekh Abdul Mannan menyiarkan agama Islam di Tanah Mandar.

Sekitar 300 meter dari mesjid, makam Syekh Abdul Mannan berdiri kokoh dan tetap dirawat dan dijaga oleh Muhammad Aqil yang juga keturunan Syekh Abdul Mannan.

Baca Juga:  Dana Dinkes Parepare Raib, Polisi Bakal Tersangkakan Sejumlah Pejabat

Kompleks makam tersebut dibangun sejak ratusan tahun silam ĺldi daerah perbukitan, tepatnya di puncak Poralle Salabose Kabupaten Majene dengan area seluas sekira satu hektar.

Lokasi makam Syekh Abdul Mannan sering ramai dikunjungi peziarah yang datang dari luar Kabupaten Majene utamanya menjelang bulan suci Ramadhan.(*)

Penulis: Almadar Fattah

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here