Menderita Tumor Ganas Sejak 30 Tahun Silam, Nenek Ini Ditemukan Sebatang Kara di Gubuknya

POLEWALI MANDAR (Berandatimur.com) –  Seorang nenek usia 80 tahun ditemukan hidup sebatang kara di gubuk kebunnya ternyata mengidap penyakit tumor ganas pada perutnya sejak 30 tahun silam.

Sapati, nama nenek ini berteduh di gubuknya berukuran 3×4 meter  berdinding papan yang sudah tampak lapuk dengan atap terbuat dari daun rumbia.

Tinggal di Dusun II Desa Mapilli Barat Kecamatan Luyo Kabupaten Polman Provinsi Sulawesi Barat ini, juga hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal dunia sejak beberapa tahun lalu.

Gubuk tempat tinggal Nenek Sapati berukuran 3×4 meter di kebunnya. Foto: Almadar Fattah

Wartawan BERANDATIMUR.COM yang mengunjungi gubuk nenek tua ini mengisahkan kondisi pilu kehidupan nenek ini tetap berusaha bertahan hidup melawan penyakit mematikan yang mengerogoti perutnya.

Baca Juga:  Masjid Salabose Berusia 400 Tahun Tanda Awal Masuknya Islam di Majene

Seorang warga yang tinggal tidak jauh dari gubuk nenek ini bernama Zulkifli, Selasa (19/2) menuturkan, baru mengetahui jika nenek Sapati mengidap penyakit tumor.

Selama ini, warga sekitar rumahnya tidak tahu karena saat turun dari rumahnya menggunakan sarung dengan cara dililit dipinggangnya.

Pasca mengetahui kondisi nenek ini, sejumlah warga mulai bersimpati dan prihatin akibat perutnya semakin membesar.

Zulkifli yang tercatat anggota Polres Polman yang berdomisili di Kecamatan Wonomulyo ini berkunjung ke rumah Sapati dengan lantai terbuat dari bambu yang dianyam ini menyerukan agar warga membantu nenek tersebut.

Keprihatinan Zulkifli ini diutarakan bahwa pemerintah kecamatan telah menberikan bantuan selama ini. Khususnya PKM Batupanga Kecamatan Luyo sudah pernah merujuk ke rumah sakit setempat namun tidak ada perubahan.

Baca Juga:  Laura Lepas Pengiriman Bantuan Korban Tsunami Sulteng

Ia mengharapkan, Nenek Sapati mendapatkan perhatian khusus sehingga keberadaan media untuk mempublikasikannya dapat diketahui oleh khalayak luas.

Nenek Sapati (tengah pakai sarung) saat dikunjungi anggota kepolisian dan warga setempat di tubuhnya. Foto: Almadar Fattah

“Mudah-mudahan dengan adanya pemberitaan dari media, masyarakat luas mengetahuinya dan bersimpati membantunya,” harap Zulkifli.

Zulkifli mengingat kejadian yang sama dialami Fatima warga Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat terbantu pasca dipublikasikan melalui media massa.

Dimana sebuah lembaga kemanusiaan dari Jakarta waktu itu turun tangan menanggung biaya operasi sehingga dapat sembuh dari penyakit tumor yang dideritanya.

Zulkifli menambahkan, kondisi nenek Sapati ini sudah sangat memprihatinkan akibat perutnya semakin membesar karena penyakit tumor ganas yang menggerogotinya.

Baca Juga:  Mahasiswa Unhas Latih Anak Autis Baddoka

Sementara hidup sebatang kara di tubuhnya tentunya tidak memiliki biaya untuk berobat.

Oleh karena itu, tanpa uluran tangan dari pihak lain yang benar-benar peduli dikhawatirkan penyakitnya semakin parah. (*)

Penulis: Almadar Fattah
Editor   : M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here