Bocah JUal Sayur Mayur di Pinggir Jalan
Seorang bocah berusia 13 tahun menjual sayur mayur di pinggir Jalan Persemaian Kelurahan Nunukan Tengah, Nunukan, Sabtu (28/11)

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Demi mencukupkan biaya hidup keluarga, bocah berusia 13 tahun rela membantu kedua orangtuanya menjual sayur mayur dengan menggelar alas yang terbuat dari karung di pinggir Jalan Persemaian Kelurahan Nunukan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kaltara.

Bocah yang bernama Muhammad Guntur ini mengaku tidak pernah merasa risih atau malu dengan menjual sayur mayur sendiri di pinggir jalan setiap sore hari sekira pukul 15.30 Wita.

“Saya tidak pernah malu jual sayur-sayur. Sudah enam bulan saya bantu orangtua jual sayur disini,” tutur bocah dengan memakai baju kaos warna biru ini. Ia mengaku sedang menempuh pendidikan kelas I di SMP Negeri 1 Nunukan.

Baca Juga:  Pelantikan pengurus KKSS Nunukan berlangsung sukses, Safri: Berkat kerja keras seluruh panitia

Sayur mayur yang dijual tersebut, hasil kebun tetangganya di dekat pekuburan Jalan Persemaian Kelurahan Nunukan Tengah. Guntur rela mendorong gerobak setiap sore hari kala hendak menjual sayur mayur yang diperoleh dari tetangganya itu.

Jarak tempuh mendorong gerobak dengan lokasi dia menjual sekira satu kilo meter. Lokasi menjual tepatnya di pinggir jalan depan rumah warga.

Sekali-kali melayani pembeli yang melintas di jalan. Harga sayur mayur yang dijualnya sebesar Rp5.000 per ikat. “Ini saya jualkan lilam ribu saja. Sudah enam bulan saya menjual disini,” ucap Guntur dengan suara agak tegas.

Baca Juga:  Wabup Hanafiah monitoring proyek pembangunan di Nunukan Selatan

Bocah Guntur ini diakuinya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orangtuanya berasal dari NTT. Ayahnya bekerja sebagai pengurus calon TKI tujuan Sabah, Malaysia sebelum pandemi COVID-19. Sedangkan ibunya, sehari-hari berjualan sayur mayur di pasar pada pagi hari.

Ia mengatakan bukan baru kali ini setelah ada pandemi COVID-19 berjualan sayur mayur. Tetapi pada saat masih duduk di kelas VI SD pun sudah melakoni pekerjaannya berjualan barang yang sama di pasar.

Hanya saja, terpaksa berjualan di pinggir jalan karena dilarang berjualan di atas trotoar jalanan di seputaran ibukota Nunukan. “Dulu juga saya jualan sayur di pasar waktu masih kelas VI SD. Bantu-bantu mama ku jualan,” ucap dia.

Baca Juga:  Kadisdikbud Nunukan: Hanya 14 Sekolah Diberi Izin Belajar Tatap Muka

Barang jualannya, kata dia, seringkali habis dengan keuntungan yang cukup langsung diserahkan kepada orangtuanya. “Saya tidak pernah malu,” kata dia lagi ketika ditanya ulang soal perasaannya berjualan sayur mayur di pinggir jalan. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here