Mengupas Makna Sastra “Maran” dari Sang Legenda Sastra Bantala 

Pendokumentasian Sastra Maran Dari Sang Legenda Yakobus Gowing Sogen
Penggiat Budaya melakukan dokumentasi sastra Maran dari Maestro Ata Yakobus Gowing Sogen, Sabtu (19/11)

Larantuka (BERANDATIMUR) – “Maran” bagi masyarakat Kabupaten Flores Timur, NTT memiliki makna dan tujuan yang dalam kehidupan sastra. Diucapkan tidak sembarangan tetapi memiliki sisi etika yang kuat.

Sehubungan dengan pentingnya memaknai “Maran” bagi masyarakat setempat sang legenda Sastra Bantala bernama Yakobus Gowing Sogen (98).

Penuturan Yakobus selalu Maestro Ata diketahui “Maran” adalah tradisi budaya Suku Lamalohot Kabupaten Flores Timur, NTT yang dijalankan dengan ritual atau upacara adat.

Maran adalah sastra lisan yang menggunakan bahasa daerah sehingga . Tidak semua orang dapat melakukannya.  Hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu yang telah mendapatkan perwahyuan khusus dari generasi-generasi sebelumnya, jelas Yakobus.

Kaitannya dengan tatanan kehidupan sehari-hari, “Maran” memberikan suasana penting dalam bertutur kata atau disebut Koda Maran.

“Disetiap kejadian atau peristiwa itu koda marannya berbeda-beda, tergantung pada siapa maran itu mau ditunjukan langit atau bumi atau kepada kekuatan intesitas atau supranatural lainnya,” sebut sang maestro ata Maran ini.

Baca Juga:  Tim Elang Polrestabes Makassar Tembak Residivis Narkoba

“Maran” yang dituturkan secara lisan menggunakan bahasa daerah terdapat banyak kata-kata kiasan di dalamanya. Tidak bisa diterjemahkan secara lurus dengan Bahasa Indonesia.

Yakobus juga menyampaikan bahwa pengucapan “Maran” tidak boleh sembarangan, tetapi harus diketahui tujuannya dan waktu tertentu.

Oleh karena itu, dia berharap “Maran” dapat dilestarikan oleh generasi muda sekarang.

Harapan sang legenda Sastra “Maran” ini disambut baik oleh penggiat budaya di daerah itu dengan melakukan dokumentasi melalui perekaman dalam bentuk audio visual.

Apa yang dilakukan penggiat budaya ini difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan sebagai bentuk dukungan bagi pelaku seni dan budaya, baik seniman maupun komunitas seni.

Dokumentasi ini dipandu oleh seorang budayawan bernama Silvester Petara Hurit di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema pada Sabtu malam 19 November 2022 malam,

Baca Juga:  Jalani karantina di Rusunawa Nunukan, TKI ini meninggal dunia

Pengambilan dokumentasi ini dilakukan Yohanes Marianus Wain yang sering di sapa Joe bersama kawan-kawan.

Joe sapaan Yohanes Marianus Wain menjelaskan pengdokumentasiansastra lisan maestro bertujuan untuk menyediakan referensi bagi generasi muda melalui media audio visual agar tidak punah.

“Kita mendokumentasikan sastra lisan maran dalam bentuk audio visual sebagai upaya kongkrit merawat maran sehingga dapat memperkenalkan maran kepada banyak orang dan para generasi bisa memperlajari maran dalam bentuk audio visual,” ujarnya.

Mengambil Desa Bantala sebagai lokasi pengdokumentasian dengan alasan maestronya atau penguasa mantra berada di desa ini yang jarang dijumpai dan terbilang hampir komplit. Juga Bantala merupakan desa tertua yang masih memiliki budaya atau tradisi yang kuat.

“Beliau adalah bapak Yakobus gowing sogen yang saat ini sudah berumur 98 tahun. Keistimewaan beliau salah satunya sangat fasih dalam melafalkan maran atau mantra walaupun umur sudah tidak muda lagi. Dan di topang oleh keberadaan Desa Bantala sebagai kampung tua dengan tradisi adat dan budaya belum mengalami pemusnahan atau pelarangan pada dekate 70an,” jelasnya

Baca Juga:  Ratusan Tamtama Baru Jalani Tradisi di Makodim 1624/Flores Timur

Dokumentasi sastra lisan maestro ata maran itu sendiri di dukung oleh program indonesiana di bidang dokumentasi karya dan pengetahuan maestro.

“Selain itu juga di dukung oleh Kementrian Pendidikan,Kebudayaan, Riset dan Teknologi serta lembata pengelola dana pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan Republik indonesia” imbuh Yohanes. (*)

Reporter: Yakobus Elton Nggiri
Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here