Meresahkan, angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Lembata cukup tinggi

Peluncuran Tim Koordinasi Percepatan Penurunan AKI dan AKB Lembata
Peluncuran Tim Koordinasi Perceoatan Penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Lembata, Selasa (26/7(. FOTO: Azis Usman/BERANDATIMUR.COM

Lembata (BERANDATIMUR) – Pemerintah Kabupaten Lembata, NTT mengakui angka kematian ibu dan anak di daerahnya tergolong cukup tinggi setiap tahun sehingga sangat meresahkan.

Oleh karena itu, dibentuk tim koordinasi percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) Kabupaten Lembata, NTT yang dluncurkan oada Selasa, 26 Juli 2022.

Terkait dengan permasalahan AKI dan AKB ini, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah bekerja sama dengan program Momentum-USAID dan Kabupaten Lembata.

Launching ini dilaksanakan di ruang rapat Bupati Lembata pada Selasa, 26 Juli 2022. Pejabat Bupati Lembata Marianus Jawa diwakili Asisten Pemerintahan Ambrosius Wurin Leyn mengatakan angka kematian ibu dan anak menggambarkan tingkat akses masyarakat terhadap kesehatan.

“Angka kematian ibu dan anak bukan hanya merupakan indokator kesehatan ibu dan anak, namun juga dapat menggambarkan tingkat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, termasuk tingkat efesiensi dan efektivitas dalam pengelolaan program kesehatan,” sebut Ambrosius.

Baca Juga:  Hari terakhir liburan Idul Fitri, Pantai Bota Nipo dan Nusantara Wowong dipadati pengunjung 

Dari data yang diperoleh, lanjut Ambrosius, angka kematian ibu dan bayi di daerahnya masih tergolong tinggi. Pada 2020 terdapat lima kasus kematian ibu dan 24 kasus kematian bayi.

Selanjutnya pada 2021 terdapat tiga kasus kematian ibu dan 26 kasus kematian bayi. Pada 2022 tercatat empat kasus kematian ibu dan 12 kasus kematian bayi baru lahir.

“Dari data-data itu tentu sangat meresahkan kita, untuk itu perlu upaya-upaya kongkrit dan kolaborasi lintas sektor dalam merespons tingginya kematian ibu dan bayi baru lahir di daerah ini,” terng Ambrosius lagi.

Tak lupa mengucapkan terima kasih kepada USAID yang sudah berkolaborasi dengan pemerintah terkait dalam menangani permasalahan ini.

Baca Juga:  Platina FC kalah, saudara kembar pencetak gol Persebata dapat bonus

“Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada USAID yang sudah berkolaborasi denga pemerintah melaui program MOMENTUM untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir,” ucap Ambrosius.

Pemkab Lembata meminta kepada tim koordinasi yang dibentuk agar berani pasang target nol kasus karena ini kerja kemanusiaan. “Tidak boleh ada toleransi perencanaan untuk angka kematian, kalau sampai ada toleransi itu sama artinya degan kita sedang merencanakan kematian ibu dan bayi,” tegas Asisten Pemerintahan Setdakab Lembata ini.

Oleh karena itu, dia tegaskan semua harus berkomitmen dan bekerja secara tim.

Pada kesempatan itu, Senior Manager Program MOMENTUM dr Ignasius Henyo Kerong mengajak semua elemen masyarakat untuk menumbuhkan rasa peduli.

“Kita bisa menurunkan kasus kematian ibu dan angka kematian bayi hanya dengan peduli, jika semua komponen dan elemen-elemen ikut peduli kepada ibu dan anak itu sangat pasti bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir,” hara dia.

Baca Juga:  "Kebang Lewa Lolon" konservasi baru menjaga habitat ikan di Laut Solor 

Pada 2021-2024, MOMENTUM diberikan kesempatan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk bersama-sama dengan masyarakat dan pemerintah daerah untuk memerangi permasalahan kematian ibu dan bayi di Provinsi NTT.

Mnurut dia, kematian ibu dan bayi baru lahir dapat mempengaruhi usia harapan hidup yang berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). (mg05)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here