Kolase. Pintu masim Pasar Sidodadi Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polman Sulbar. Pasar ini dibangun pada 1937 oleh warga transmigrasi asal Pulau Jawa yang didatangkan Pemerintah Kolonial Belanda. Foto: Almadar Fattah

Polman (BERANDATIMUR.COM) – Aktivitas pasar tertua di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat mulai ramai dikunjungi warga berbelanja jelang lebaran Idul Fitri 1440 Hijriyah.

Pasar yang berada di Kelurahan Sidodadi Kecamatan Wonomulyo tersebut didirikan pada 1937 Masehi. Pasar ini beraktivitas selama 24 jam.

“Pasar ini beraktivitas 24 jam penuh, non-stop, dan merupakan pasar konvensional yang unik yang ada di Provinsi Sulbar,” ujar seorang warga di daerah itu.

Keunikan pasar konvensional ini adalah pedagang menggelar lapak dagangannya sepajang jalan sekelilingnya.

Pada bulan Ramadhan 1440 H ini, pedagang menjajankan dagangannya, berupa pakaian dan kebutuhan lainnya untuk Idul Fitri dibuka pukul 19.30 wita sampai pukul 23.00 wita.

Baca Juga:  Festival Sayyang Pattu’du di Polewali Mandar menghadirkan 175 ekor kuda 

Selain bulan puasa seperti malam Minggu dan Rabu tetap dibuka pada malam hari.

Sedangkan dagangan berbagai macam makanan dan hasil bumi seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, pedagang mendirikan lapak dari pukul 19.00 wita sampai pagi hari.

Khusus untuk hasil bumi, warga yang datang berbelanja selain warga Polman juga dari daerah terdekat seperti Kabupaten Mamasa dan Majene bahkan Kabupaten Pinrang Sulsel.

Awal mula Pasar konvensional Wonomulyo dibangun oleh warga transmigrasi asal Pulau Jawa yang didatangkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada Juli 1934 silam.

Baca Juga:  Minat Baca di Kaltara Terus Diasah

Awalnya Kecamatan Wonomulyo berbentuk distrik colonie kemudian berganti nama menjadi Wonomulyo yang bermakna hutan rimba.

“Pasar konvensional Wonomulyo bisa menjadi destinasi belanja favorit di Provinsi Sulbar. Pasar ini harus menjadi lokasi nyaman dan bersih untuk berbelanja sehingga bisa lebih banyak mengundang orang luar untuk datang,” ujar Guntur pedagang pakain pada Minggu, 26 Mei 2019.

Guntur menambahkan, dirinya telah berdagang ke sejumlah daerah yaitu Papua, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Namun pasar konvensional Wonomulyo sangat istimewa dijadikan ladang bisnis karena selain jualan cukup laris juga kebutuhan rumah tangga mudah didapatkan dan murah.

Baca Juga:  Cammana, Maestro Seni Tradisional Mandar Meninggal Dunia

Untuk itu, Pemkab Polewali Mandar melalui Disperindagkop dan UKM punya perhatian khusus menjadikan pasar modern dengan konsep pasar ‘Marasa’ (Maju, Rapih, Sehat dan Aman).

Banyak kalangan menilai penunjukkan pasar tua ini dinilai sangat wajar dan bijak sebagai urat nadi perputaran perekonomian Kabupaten Polman bahkan Provinsi Sulbar. (*)

Reporter: Almadar Fattah
Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here