Pelaku UMKM sebut rumput laut selamatkan perekonomian Nunukan, tidak kolaps

Sektor Rumput Laut Menyelamatkan Perekonomian Masyarakat Nunukan
Masyarakat ekomomi menengah ke bawah menjadi pekerja kasar dengan mengikat bibit rumput demi menjaga ekonomi keluaranya setiap hari. FOTO: Doc

Nunukan (BERANDATIMUR) – Sejumlah kalangan mensinyalir perekonomian di Kabupaten Nunukan, Kaltara terancam krisis apabila sektor perikanan rumput laut sudah macet.

Hal ini disampaikan oleh pelaku usaha kecil dan mikro bahwa pemicu ekonomi Kabupaten Nunukan tidak berkembang disebabkan kurangnya inovasi dan kreatifitas pemerintah daerah setempat dalam membangun sektor ril.

“Kalau bukan karena rumput laut, perekonomian Kabupaten Nunukan sudah kolaps. Kenapa, hampir tidak ada pendapatan masyarakat. Tidak ada inovasi dan kreatifitas pemerintah daerah untuk mengangkat perekonomian masyarakat khususnya masyarakat kecil,” ungkap Herman, salah seorang pelaku UMKM di Kabupaten Nunukan, Kamis, 9 Juni 2022.

Ia mengakui sektor perikanan budidaya rumput laut telah menjadi penyelamat perekonomian masyarakat ekonomi menengah ke bawah akhir-akhir ini utamanya selama pandemi COVID-19. Sementara pemda di daerah itu hampir tidak ada upaya dan langkah nyata yang dilakukan selain menindaklanjuti program pemerintah pusat.

Perekonomian yang ditopang sektor budidaya rumput laut sangat membantu semua kalangan masyarakat mulai ekonomi rendah hingga menengah ke atas. Dimana, terbukti dan manjur dalam membantu perekonomian masyarakat khususnya untuk kebutuhan sehari-hari, sebut Herman kepada awak media ini.

Baca Juga:  Kondisi TKI Deportasi Suspect Corona Mulai Membaik, Bupati Nunukan: Jika Mengkhawatirkan Segera Rujuk ke Tarakan

“Sektor rumput laut ini dinikmati semua kalangan masyarakat baik ekonomi rendahan maupun mengenah ke atas. Jadi sangat membantu sekali ekonomi masyarakat khususnya kebutuhan sehari-hari,” beber dia.

Herman mengakui sektor perkebunan kelapa sawit juga sangat membantu perekonomian masyarakat selama enam tahun terakhir. Apalagi, harga crude palm oil (CPO) pernah meningkat sekali hingga tembus Rp2,8 juta per ton.

 

Sektor Rumput Laut Menyelematkan Perekonomian Masyarakat Nunukan
Pasar malam di Jalan Lingkar mulai mengeliat setelah pandemi COVID-19 dengan meningkatnya masyarakat berbelanja pada malam hari, Rabu (8/6). FOTO: Doc

Hanya saja, kata pengusaha UMKM ini, sektor kelapa sawit hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat saja. Kalaupun berdampak pada pelaku UMKM, skalanya kurang atau kecil. Sementara masyarakat yang paling banyak merasakan “sakitnya” kondisi ekonomi saat ini adalah menengah ke bawah atau pelaku UMKM.

Kemudian penopang perekonomian masyarakat lainnya yang terlihat adalah aktivitas di pelabuhan, dimana banyaknya pasokan bahan makanan, minuman, maupun bahan-bahan lainnya seperti pengiriman rumput laut ke luar daerah.

Baca Juga:  Pemilik "Speedboat" Pengangkut Daging Alana Permasalahkan Pengubahan Warna Cat Kapalnya

“Jadi hanya tiga sektor ini yang membantu perekonomian masyarakat di Kabupaten Nunukan. Sedangkan sektor lainnya hampir tidak terlihat dampaknya tapi yang lebih besar pengaruhnya adalah rumput laut,” ujar Herman.

Ia menyatakan jika menyoroti pemda Nunukan soal ini, palingan beralasan tidak ada uang. Padahal, sebenarnya bukan tidak ada uang tetapi ketidakmampuan mengelola uang yang ada untuk mengangkat perekonomian masyarakat.

Herman menyatakan, sekecil apapun anggaran yang dimiliki tetap bisa berdampak positif bagi perekonomian di daerah apabila pemda punya kemampuan berinovasi dan berkreasi. “Bisa saja. biar lagi uangnya kecil atau kurang kalau pemdanya mampu berkreasi dan memikirkan ekonomi masyarakatnya,” tegas dia.

“Selama ini kan alasannya tidak ada uang makanya tidak bisa membangun. Padahal kalau memang punya kemampuan sekecil apapun anggarannya bisa saja dikelola untuk kepentingan ekonomi masyarakat,” tegas dia.

Hal yang sama diutarakan pelaku UMKM kuliner di Jalan Lingkar Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan. Pedagang yang minta namanya tidak ditulis ini, Rabu malam, 8 Juni 2022 mengakui, pembeli mulai banyaknya setelah pemerintah tidak memperketat atau membatasi kegiatan masyarakat dibandingkan selama pandemi COVID-19.

Baca Juga:  Relawan ZIYAP Terus Bergerak, Jelaskan Visi Misi ke Warga

Hanya saja, kata ibu rumah tangga ini, pembeli kebanyakan masyarakat kecil. Mungkin pekerja kasar atau pemilik modal budidaya rumput laut. Ditambah lagi, dibukanya penyeberangan Nunukan-Tawau, Malaysia sehingga terlihat mulai ada TKI yang mampir makan atau membeli pakaian bekas.

“Kalau bukan karena harga rumput laut naik sekarang, mana ada orang yang datang makan di warung seperti di Jalan Lingkar ini,” ujar perempuan paruh baya ini. Ia sebutkan, sektor rumput laut menjadi penyelamat perekonomian masyarakat Kabupaten Nunukan. (***)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here