Imam Shamsi Ali (kedua kiri) saat menjadi pembicara dalam konferensi pers bersama Andrew Cuomo, Gubernur New York menyikapi kebencian (hate) kepada Komunitas Muslim dan Yahudi di Amerika.

Rasanya sudah agak lama saya tidak menulis mengenai isu politik, khususnya politik Amerika Serikat. Hanya saja kunjungan saya ke New Zealand sebelum Ramadhan 1440 Hijriyah lalu menjadi terpanggil kembali untuk mengingatkan tentang isu yang menghangat memasuki tahun politik ini.

Hampir sama di seluruh dunia, agama menjadi salah satu isu hangat ketika sebuah negara memasuki musim politiknya. Apatah itu negara maju atau negara berkembang, bahkan negara yang sangat terbelakang sekalipun.

Agama selalu menjadi pembahasan seksi di kalangan para politisi termasuk di negara adi daya Amerika Serikat. Agama, dalam hal ini Islam dan Muslim serta segala yang terkait dengannya menjadi isu hangat dalam perdebatan-perdebatan politik.

Istilah-istilah agama (Islam) yang selama ini dikembangkan sedemikian rupa dengan nuansa yang menyeramkan itu kembali menjadi obralan politik murahan. Kata jihad dan syariah misalnya begitu popular di obrolan para politisi negara tersebut.

Bahkan istilah-istilah sama sekali tidak dikenal dalam diskursus keilmuan Islam dipopulerkan sedemikian rupa untuk menjadi jualan politik tanpa malu. Kata jihadist dan Islamist misalnya yang tidak pernah kita temukan dalam kamus Islam, tiba-tiba menjadi sebuah kata yang seolah sangat popular dan baku pasca kasus 9 Nopember itu.

Lebih mengagumkan lagi, mayoritas (jika tidak semuanya) para politisi itu memiliki keilmuan yang minim bahkan “zero” tentang Islam. Mereka tidak pernah mempelajari Islam dari sumber-sumber sahih (autentik). Umumnya mereka mengenal Islam dari media-media massa yang dari sononya memang bias terhadap agama ini.

Baca Juga:  Hajj Journey (2)

Sikap politik terhadap Islam seperti ini dengan sendirinya menjadi salah satu penyulut terdahsyat bagi meningginya Islamophobia di negara ini. Masyarakat umum, khususnya mereka yang menjadi pendukung fanatis kandidat tertentu akan tersulut rasa takutnya dan terbakar sumbu amarahnya kepada agama ini dan pemeluknya.

Itulah sebuah realita yang dihadapi oleh komunitas muslim di negara-negara mayoritas non muslim seperti Amerika Serikat. Walaupun seringkali sikap itu justeru menampilkan “kelucuan dan kedunguan” sekaligus.

Ambillah satu contoh lucu. Bagi umat Islam, Jumatan itu adalah salah satu praktek syariah (hukum agama) yang mendasar. BerIslam tanpa Jumatan berarti sebuah pelanggaran besar terhadap hukum agama yang lebih dikenal dengan istilah syariah.

Sekitar akhir tahun 90-an, komunitas muslim yang menjadi bagian dari Capitol Hill atau gedung Kongres Amerika Serikat meminta ruangan khusus untuk mereka melaksanakan sholat Jumat. Umumnya adalah staf atau pegawai yang bekerja di gedung itu.

Kebetulan Speaker (Ketua Kongress) ketika itu adalah Newt Gingrich. Dialah yang memberikan izin kepada komunitas muslim untuk melaksanakan sholat Jumat di gedung Capitol Hill tersebut.

Lucunya, beberapa tahun setelah Mr Gingrich memberikan izin Jumatan di Capitol Hill, mantan speaker ini ikut mencalonkan diri untuk menjadi Presiden Amerika dari Partai Republik. Di saat itulah  dengan segala daya menyerang Islam dan syariah.

Baca Juga:  Syariah dan Demonstrasi Kemunafikan

Sang pemberi izin praktek syariah di Capitol Hill itu tiba-tiba menjadikan syariah sebagai sesuatu yang antithesis dengan nilai-nilai Amerika (American values). Syariah dianggap racun bagi Amerika.

Lucu kan? Tapi itulah realitanya. Kelucuan itu semakin menjadi-jadi dan dipertontonkan oleh banyak politisi dari masa ke masa. Khususnya ketika memasuki musim-musim kampanye seperti tahun 2020 mendatang.

Kini Amerika Serikat kembali bersiap-siap memasuki pesta demokrasi empat tahunan. Sejak terpilihnya Donald Trump mengalahkan Hilary Clinton pada pemilu lalu, Islamophobia semakin menjadi-jadi.

Jika di masa lalu Islamphoboa adalah “case by case” (kasus per kasus) di pinggir-pinggir jalan. Kini Islamophobia itu seolah menjadi “mainstream” pemerintahan. Terasa Islamophobia menjadi bagian dari sistem itu sendiri.

Donald Trump dengan ideologi ekstrim “right wing” telah menjadi penyulut kebangkitan radikalisme dan terorisme kaum putih yang disebut “White Supremacy”. Mereka dengan berani dan tanpa malu lagi mempertontonkan kebencian kepada semua warga non white, khususnya kepada komunitas muslim yang minoritas.

Kebangkitan kaum radikal dan teroris putih ini bahkan telah diakui sebagai ancaman terhadap keamanan global yang berbahaya. Bahkan lebih berbahaya dari ISIS dan Al Qaidah itu sendiri.

ISIS dan Al Qaidah jelas wajahnya. Mereka sudah berhasil dibentuk sebagai musuh bersama. Tetapi White Supremacy justeru masih dianggap bagian dari mereka yang mengaku lebih beradab (civilized). Bahayanya karena sosoknya remang-remang.

Baca Juga:  Catatan Impiris Pelajaran Sastra di Sekolah

Oleh karena itu, bagi komunitas Muslim Amerika, pemilu 2020 mendatang menjadi salah satu arena pertarungan yang menentukan. Menentukan wajah Amerika dalam memandang komunitas muslim minimal empat tahun ke depan.

Untuk itu umat Islam Amerika akan “all-out” dalam mengambil partisipasi politiknya di Amerika Serikat. Partisipasi politik bagi muslim Amerika Serikat bukan sekedar “civic right” atau hak sipil semata.

Partisipasi politik bagi umat muslim Amerika Serikat menjadi kewajiban “amar ma’ruf”, khususnya pada aspek “nahy mungkar”.

Menangkal kemungkinan memburuknya Islamophobia yang semakin menjadi-jadi. Mengalahkan tendensi “evil” (syetan) yang bersifat historis itu. Di sinilah letak urgensi partisipasi politik umat.

Ini pulalah salah satu kewajiban saya sebagai seorang Imam di negara adi daya ini untuk menyadarkan umat bahwa politik jangan ditabukan, apalagi dikotorkan. Tergantung bagaimana melaksanakan dan untuk tujuan apa.

Mungkin tidak berlebihan jika saya katakan, partisipasi politik bagi komunitas muslim Amerika Serikat saat ini menjadi salah satu bentuk jihad besar (jihadan kabiira). Tapi sadarkah umat ini? Wallahu a’lam!
strong>New York City, 12 Juni 2019

*Penulis adalah Imam Masjid New York USA dan Presiden Nusantara Foundation berasal dan lahir di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Sulsel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here