Penuturan wanita open BO di Larantuka aman beroperasi

Penuturan Wanita Open BO di Larantuka
Ilustrasi

Larantuka (BERANDATIMUR) – Wanita-wanita penjaja seks di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT bebas dan aman beroperasi meskipun pengakuannya telah seringkali di razia oleh aparat kepolisian.

Penjaja seks yang masih usia remaja ini, mengaku tidak malu atau terhina atas profesinya demi mendapatkan uang demi kelangsungan hidupnya. Bahkan, wanita-wanita ini mengaku biasa saja atas profesinya.

Pekerja seks yang dapat diorder melalui apalikasi online ini, tempat mangkalnya di Kelurahan Pukentobi Wangi Bao, Kecamatan Larantuka.

Salah seorang penjaja seks online di Larantuka ini bernama Bunga (samaran) usia 16 tahun kepada awak media pada Minggu, 24 Juli 2022 menuturkan melakoni pekerjaan sebagai penjaja seks online karena sudah terlanjur menekuninya. Terjerunus ke dalam pekerjaan ini berawal dari ajakan temannya asal Kabupaten Lembata.

“Saya si tidak ada beban om. Walau dijuluki pelacur atau apa pun istilahnya, saya biasa-biasa saja. Jo kamu sake ka, kalau saya melacur, dalam otak saya ini hanya uang,” beber Bunga.

Sembari menghisap sebatang rokok kesukaannya, Bunga menceritakan masa lalunya pertama kali mendapatkan pelanggan saat berada di Larantuka. Ia mengatakan, awalnya ada rasa takut, namun lama kelamaan sudah terbiasa dan membiarkan tubuhnya “dilahap” oleh lelaki yang senang memakainya.

Baca Juga:  Status sopir ambulance di Lembata tak jelas, apa alasan pemda?

“Awalnya si saya takut, namaun sudah kepalang basah berada bersama mereka. Akhirnya saya pun membiasakan diri dan memasrahkan tubuh saya ‘dilahap’ tamu-tamu saya. Dalam benak saya, hanya uang! Terpenting, saya mendapatkan uang,” ujar dia.

Lain lagi penuturan wanita penjaja seks bernama Wangi (samaran). Ia mengaku, kedatangannya di Larantuka untuk “menjual” dirinya terpaksa membohongi kedua orangtuanya.

Pengakuan kepada kedua orangtuanya, Wangi sebutkan bekerja oada sebuah rumah makan di Larantuka. Hal ini dilakukan, setiap mengirim uang hasil “menjual” diri kepada kedua orangtuanya.

“Ketika mengirim uang ke orangtua,saya terpaksa tipu mereka, kalau uang itu adalah hasil kerja saya di warung makan. Mau bagaimana lagi, hanya itu yang dapat saya lakukan,” aku Wangi.

Begitu pula dengan rekannya sesama asal Kabupaten Lembata bernama Tania usia 23 tahun itu. Ia menuturkan, pertama kali melayani lelaki hidung belang di Larantuka dengan perasaan takut.

Namun, tidak bisa berbuat banyak karena paksaan dari bundanya berinisial AH yang menjadi mucikarinya. Tania mengaku berasal dari Pulau Adonara dan pertama kali diajak oleh temannya asal Kabupaten Lembata untuk bekerja di Larantuka.

Baca Juga:  Warung mie ayam berbahan dasar daun kelor kini hadir di Larantuka¬†

Pada saat tiba di Larantuka langsung diperkenalkan kepada bunda AH yang berdomisili di Sarotari. Awalnya diajak untuk bekerja di warung makan, tetapi pertama kali bekerja langsung diminta untuk melayani tamu laki-laki sehingga tidak bisa menolak.

“Karena teman saya itu ajak saya, untuk cari kerja di Larantuka, maka saya pun mau, dan berpamitan dengan orangtua saya. Setibanya di Nagi (sebutan khas Larantuka), saya dikenalkan pada seorang ibu yang biasa dipanggil dengan bunda AH,” ujar Tania.

Nah, melihat situasi di tempat itu, dia yakin akan dipekerjakan pada warung makan pemilik rumah itu. Ketika malam hari, malah ditawarkan untuk melayani tamu laki-laki sehingga membuatnya kaget.

Hanya saja, Tania katakan tidak mampu berbuat apa-apa sehingga dilakoninya sampai sekarang dengan melayani seks lelaki. “Kaget saya, tapi mau bagaimana lagi, saya akhirnya mengiyakan dan berlanjut hingga sekarang ini,” ungkap dia.

Bunda AH mempekerjakan sembilan wanita usia remaja untuk melayani pelanggan di warung makannya. Kesembilan wanita ini mengaku sering dirazia oleh aparat kepolisian tetapi tetap beroperasi.

“Kami so sering dapat razia dari polisi, so bikin peryataan tapi kalau kami tidak kerja begitu kami mau dapat uang dari mana, cari kerja saja susah apa lagi saya yang hanya punya ijasah sekolah dasar,” tutur Tania.

Baca Juga:  Pendaftaran Mahasiswa Baru IKTL Secara Online, Bisa Juga Langsung ke Kampus

Meskipun mampu mengantongi uang dalam jumlah besar (menurut ukurannya), tetapi profesinya dianggap tidak nyaman karena berbagai masalah yang dialaminya. Apalagi pada saat sepi job, dalam benaknya sering dihantui perasaan bersalah dan menyesal.

“Ada penyesalan, dan mau berhenti. Bahkan sudah ada niat untuk berhenti, namun tiba-tiba ada tamu yang mintakan. Belum lagi kita di-cap sebagai pelacur, selalu ditolak pemilik kost, dan harus berpindah-pindah. Ya, itulah nasib yang harus kami pikul,” tutup wanita-wanita tersebut.

Maraknya wanita open BO yang beroperasi di Larantuka, tetapi belum ada tindakan tegas dari aparat kepolisian maupun Pemkab Flores Timur. (mg01)

Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here