Penyelundupan Marak di Nunukan Ancaman Keras Tol Laut

Nunukan (berandatimur.com) – Penyelundupan bahan pangan dari Malaysia yang terus marak di Kabupaten Nunukan, Kaltara menjadi ancaman keras kelangsungan program tol laut.

Meskipun pasokan bahan kebutuhan pokok produk dalam negeri telah didatangkan melalui program tol, belum menghilangkan upaya-upaya penyelundupan di daerah itu akibat tidak ada tindakan tegas aparat kepolisian dan bea cukai di Kabupaten Nunukan.

Sekaitan dengan dugaan penyelundupan gula pasir asal Malaysia diperkirakan 60 ton baru-baru ini, Hasan Basri selaku Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Kabupaten Nunukan  melalui sambungan telepon, Kamis (30/8) menyatakan, keberadaan gula pasir di daerahnya yang tidak resmi tentunya sangat mempengaruhi kondisi harga di pasaran.

Sebab harga produk luar negeri dari Malaysia merupakan barang subsidi pemerintah negara tersebut dan tidak membayar pajak karena dimasukkan secara ilegal.

Akibat lain dari dampak maraknya penyelundupan produk Malaysia ke Kabupaten Nunukan adalah berpotensi produk negara sendiri tidak dilirik karena harga dipastikan lebih mahal.

Baca Juga:  Mantap...!!! Pemasukan Pajak Kaltara 2018 Lampau Target

Oleh karena itu, masuknya produk asal Malaysia secara berlebihan di Kabupaten Nunukan akan mengancam produk dalam negeri.

Selain itu mempengaruhi harga bahan kebutuhan pokok, produk luar negeri juga tidak akan mengurangi ketergantungan masyarakat perbatasan bahkan daerah lainnya sehingga bertentangan dengan tujuan utama program tol laut yang telah berlangsung lama di daerah itu.

“Maraknya penyelundupan dari luar negeri akan mengancam program tol laut. Karena harganya lebih murah dan tidak bayar pajak apalagi barang subsidi di Malaysia,” ungkap Hasan Basri.

Sebelumnya, Hasan Basri mengakui, memang pasokan bahan pangan dan sandang melalui program tol laut di Kabupaten Nunukan sejak dua bulan terakhir memang mengalami kendala sehubungan belum ada pemenang tender.

Kebutuhan bahan pangan dan sandang yang diangkut menggunakan kapal dari Surabaya, Jatim ini disebutkan hanya untuk kebutuhan maayarakat di Pulau Sebatik dan belum menyentuh Pulau Nunukan dan wilayah lainnua di Kabupaten Nunukan.

Baca Juga:  Ayo Tukarkan Cepat Uang Kertas Bergambar 4 Pahlawan Ini.

Hanya saja, apabila penyelundupan dibiarkan secara terus menerus akibat tidak ada tindakan tegas dari instansi berwewenang maka produk dalam negeri terancam tidak dilirik oleh masyarakat perbatasan di daerah itu.

Hasan Basri mengatakan, upaya penyelundupan produk asal Malaysia ke Kabupaten Nunukan sulit dihindari karena banyaknya jalur ilegal di sepanjang wilayah perbatasan Malaysia dengan Indonesia baik jalur laut maupun darat.

Namun, tidak bisa dijadikan alasan untuk melegalkan masuknya produk dari luar negeri yang dipasok melalui jalur ilegal atau selundupan karena pemerintah sekarang terus berupaya memasok kebutuhan pokok masyarakat perbatasan melalui program tol laut ini secara bertahap.

Begitu pula produk dalam negeri yang didatangkan melalui tol laut ini belum menyentuh semua wilayah di Kabupaten Nunukan.

Baca Juga:  Produk Indonesia Kalah Bersaing, Disdag: Produk Malaysia Mesti Dilegalkan

Tetapi ke depannya tol laut ini akan masuk di Pulau Nunukan dengan mengangkut barang-barang sesuai kebutuhan masyarakat.

Tujuan program tol adalah mengurangi ketergantungan masyarakat perbatasan terhadap produk luar negeri, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di wilayah perbatasan secara nasional.

Temuan 60 ton gula pasir asal Malaysia saat ini digudangkan di kolong salah satu rumah di Jalan Cik Ditiro Kelurahan Nunukan Timur diduga kuat selundupan diperkirakan akan diedarkan di luar Pulau Nunukan seperti Sulsel dan daerah lainnya di Provinsi Kaltara. (***)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here