Oleh Almadar Fattah

Dalam sejarah perdaban dunia, manusia sejak dahulu sampai sekarang khususnya kaum hawa selalu menjadi sorotan utama dan pembicaraan paling hangat.

Tidak mengherankan jika sang penyanyi pop mega bintang Madonna yang membaptiskan dirinya sebagai pemikir pendobrak kemapanan, berjiwa feminis dengan berpakaian seperti para “profesional tua” dipanggung.

Namun membuatnya sebagai anti karikatur kedudukan wanita di masyarakat. Dalam anti karikatur itu, sang mahluk paling rendah dimata masyarakat dilukiskan sebagai tokoh yang merajai dan menindas semua kaum laki-laki.

Apa yang dilukiskan mega bintang pop di panggung gemerlap itu, boleh jadi merupakan impian ekstrim kaum feminis yang berupaya membalik hubungan laki-laki dengan wanita yang berlaku di kalangan masyarakat.

Mereka ingin wanita menjadi penguasa setelah membebaskan diri dari domonasi kaum laki-laki berabad-abad. Sebagian dari kebebasan itu telah mereka capai tapi mereka tak kunjung puas. Ini persepsi dunia barat atau kaum feminis tentang wanita.

Baca Juga:  Tekad Kebahasaan Lewat Sumpah Pemuda

Wlliam Shakespeare, pujangga ternama dari Inggris itu telah berkata “What is in a name..?”. Apapun namanya, yang dimaksud dengan wanita ya sama saja, yaitu jenis mahluk manusia yang paling berjasa bagi spesiesnya secara biologis.

Wanitalah yang memungkinkan manusia bisa bertambah banyak dan berganti generasi.

Wanita dikiaskan sebagai dewa fortuna yang harus dipuja, dihormati dan dimuliahkan. Dimana ada wanita disitulah tempat menyenangkan, ketiadaannya laksana hidup tanpa makna.

Namun pada tahap ini meskipun wanita mendapat kebebasan bergerak secara manusiawi, tetapi wanita hanya alat pelepas nafsu dan penghibur hati para budak nafsu. Setelah itu mereka kembali sebagai barang tidak berharga.

Dari sekian pendapat tentang wanita, sastrawan timur (Islam) menempatkan wanita pada proposisi yang sesuai dengan fitra manusia.

Baca Juga:  Syariah dan Demonstrasi Kemunafikan

Menyatakan wanita diciptakan Sang Maha Kuasa sebagai pasangan kaum laki-laki untuk kelangsungan hidup manusia di muka bumi sampai waktu yang ditetapkan tiba.

Contohnya dalam cerita Sri Sumarah dan Canting disatukan oleh penokohan dua wanita masing-masing yaitu Sri dan Bu Bei.

Tokoh Sri dan Bu Bei adalah gambaran sosok wanita yang ideal sebagai seorang istri.

Keduanya amat tulus mengabdi kepada suami, melayani segala kebutuhan suami dan menomorduakan kebutuhannya sebagai istri.

Menurut tokoh ini menilai, suami adalah segala-galanya. Suami merupakan orang yang harus dihormati, dipenuhi semua keinginannya dan mengerti semua tingkah lakunya.

Kedua tokoh tersebut di atas merupakan reinkernasi atau transformasi tokoh Wara Sembadra istri arjuna di dunia pewayangan, yang begitu tulus dan setia mengabdikan dirinya kepada suami.

Baca Juga:  Perspektif Pemahaman Rasisme di Amerika dan Kasus di Indonesia

Alur cerita novel tersebut, wanita tersebut terlihat lebih banyak menarik perhatian karena menjadi vokalisasi cerita.

Kedua karya tersebut menunjukkan status sosial wanita yang dipandang sebagai simbol yang amat dipentingkan dan harus disayangi serta dimuliakan.

Masih dalam novel tersebut, penampilan figur wanita yang ideal adalah bukan binatang buas, bukan yang di puja-puja tetapi wanita harus dibahagiakan dan dihormati.

Wanita punya hak dan kewajiban terhadap Penciptanya sama dengan lelaki, yang pada saatnya nanti akan diminta pertangungjawabannya. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here