PN Larantuka berhasil mediasi sengketa lahan Desa Lewoloba-Gereja Pantekosta

Larantuka (BERANDATIMUR) – Sengketa lahan antara Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Kristus Gembala (GPPS) Larantuka dengan Desa Lewoloba, Kabupaten Flores Timur, NTT yang sudah berlangsung setahun, akhirnya berhasil didamaikan oleh Pengadilan Negeri setempat.

Keberhasilan mencapai kesepakatan untuk berdamai, tidak lepas dari kerelaan semua pihak terkait untuk menyelesaikan masalah secara terbuka dan penuh kerelaan hati, kata Hakim Mediator PN Larantuka, Bagus Sujatmiko kepada awak media ini di ruang kerjanya pada Kamis, 23 Juni 2022.

Ia menjelaskan sengketa yang sudah berlangsung lama ini harus didamaikan karena masing-masing punya niat baik dan tujuan yang mulia. Dimana, GPPS Larantuka beralasan ingin membangunan geraja untuk beribadah, sedangkan Desa Lewoloba tetap mempertahankan lorong desa untuk jalur transportasi warga.

Baca Juga:  Masyarakat Lamahelen mengonsumsi air dari batang pisang, tangis haru iringi penyerahan air bersih dengan berteriak "wai maso lewo"

Secara kebetulan posisi obyek yang disengketakan saling berdempetan, sebut Bagus. Mediasi yang dibantu BPN Kabupaten Flores Timur ini berlangsung pada 9 Juni 2022. Kedua belah pihak sepakat untuk mengukur ulang obyek yang disengketakan.

“Pengukuran ini dilakukan untuk memastikan letak atau posisi masing-masing tanah milik GPPS Larantuka dan Desa Lewoloba. Hasilnya ternyata memang terdapat sedikit lorong desa Lewoloba yang menjadi hak GPPS Larantuka berdasarkan sertifikat tanah milik GPPS Larantuka,” jelasnya Hakim PN Larantuka tersebut.

Akhirnya GPPS Larantuka secara sukarela, lahan seluas 21 meter persegi diserahkan kepada Desa Lewoloba untuk dibuat lorong desa. Begitu pula dengan Desa Lewoleba bersedia membangun kembali pagar gereja yang pernah dirubuhkan.

Baca Juga:  Wabup Flotim buka turnamen gala siswa PGRI Cup 2022, berpesan jaga sportifitas

“Dari pihak Desa Lewoloba pun sama, mereka bersedia membangun kembali pagar milik GPPS Larantuka yang sempat mereka rubuhkan,” ungkap Bagus.

Perlu diketahui, mediasi yang ditempuh PN Larantuka adalah proses membantu pihak-pihak yang bersengketa tanpa melalui proses persidangan yang panjang dan melelahkan.

Selain itu, mediasi dapat menghemat biaya selama persidangan karena mengedepankan “win win solution” atau tidak ada pihak yang kalah. “Solusi yang diambil dalam mediasi adalah solusi yang disepakati kedua belah pihak, sehingga diharapkan tidak merugikan pihak manapun,” ujar dia.

Baca Juga:  Saling klaim lahan antara PT Adimitra dengan masyarakat masih berlanjut

Kesepakatan lain yang dicapai kedua belah pihak, agar lorong desa tersebut diberi nama “Petrus-Paulus”. Secara kebetulan terdapat pihak dalam perkara ini yang namanya sama dengan kedua murid Yesus tersebut. (mg01)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here