Prof Zainal Arifin Hasibuan, caleg DPR RI Partai Berkarya Dapil Sumut II.

Jakarta (BERANDATIMUR.COM) – Prof Zainal Arifin Hasibuan, calon legislatif (caleg) DPR RI Partai Berkarya daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara II siap memperjuangkan Undang Undang Teknologi Informatsi dan Komunikasi.

Selain itu, Undang-Undang Pendidikan Nasional harus disempurnakan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

“Pemerintah juga harus membuat UU Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) jika tidak ingin Indonesia menjadi negara tertinggal,” ujar Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) ini pada Senin (1/4).

Teknologi Informasi dan Komputer, lanjut Prof Zainal Arifin, telah menjadi bagian semua lapisan masyarakat segala usia.

Baca Juga:  Tarakan masuk 10 kota paling makmur di Indonesia, pendapatan per kapita Rp120,88 juta

“Bocah belum sekolah pun telah mampu bermain game di gadget, membuka berbagai aplikasi dan menikmati kontennya”, ujar dia.

Namun, kata Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) itu, pemanfaatkan teknologi informasi dan komputer belum seimbang dengan investasi dan biaya yang dikeluarkan setiap individu.

“Itulah yang mendorong saya mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. Semoga saya bisa duduk di DPR RI periode mendatang dan mewujudkan gagasan saya,” kata Prof Zainal Arifin

Menurut dia, penggunaan teknologi informasi dan komputer serta penyempurnaan UU Pendidikan Nasional harus diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:  Partai Berkarya Wacanakan Bangun Pesantren Mandiri

Setiap individu harus diajarkan berapa keuntungan materi yang diperoleh dari setiap pengeluaran Rp100 ribu untuk membeli pulsa dan paket internet.

“Jangan jadi budak teknologi, tapi jadilah pengguna teknologi yang bijak,” ujar pria berkumis ini.

Ia juga mengatakan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp seharusnya tidak dimanfaatkan hanya untuk membaca berita gosip dan hoax.

Tetapi untuk aktivitas ekonomi. Itu bisa dilakukan siapa saja, dari skala kecil sampai yang besar.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM), misalnya, bisa menggunakan teknologi untuk pengembangan usaha. Sayangnya, kemampuan pelaku UKM masih terkendala kecukupan modal dan belum memahami kaidah bisnis.

Baca Juga:  Kurikulum pendidikan bakal berubah pada 2022, materi pelajaran tidak padat lagi

#IndonesiaBerkarya
#PartaiBerkarya
#SaungBerkarya
#EkonomiKerakyatan
#HutomoMandalaPutra
#ZainalArifinHasibuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here