Proyek APBN Mangkrak di Sebatik, Kontraktor dan Anggaran tak Diketahui

Nunukan (berandatimur.com) – Proyek bantuan Kementerian Desa, Transmigrasi dan Pembangunan Daerah Tertinggal yang dibiayai APBN 2017 di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan, Kaltara yakni pembangunan pabrik kakao masih mangkrak.

Selain mangkrak dan tidak bisa difungsikan sampai sekarang, konyraktor dan nilai anggarannya pun tidak diketahui karena tidak pernah dipasangi plang proyek.

Proyek yang menggunakan lahan hibah dari masyarakat dibangun di RT 02 Desa Sei Limau Kecamatan Sebatik Tengah.

Kelala Desa Sei Limau, Mardin di Sebatik, Senin mengaku, tidak tahu menahu soal pabrik kakao itu karena tidak pernah dilibatkan sejak awal.

Baca Juga:  Harga minyak goreng naik, Pemkab Flotim pasrah  

Memang, kata dia, lahan pembangunan proyek APBN bantuan Kemdes dan PDT ini adalah hibah warganya dengan ukuran 20×30 meter.

Tetapi saat dimulai pengerjaan hingga sekarang tidak diinformasikan sehingga permasalahan mangkrak dan tidak bisa difungsikan tidak diketahuinya.

Hanya dia menerangkan, kondisi bangunannya mulai roboh pada bagian atap dan mesin-mesin pengolahan biji kakao itu tampak berserakan.

Mengenai kerusakan bangunan pabrik kakao ini sulit dicari pihak yang bertanggungjawab karena kontraktornya pun tidak diketahui.

Mesin pengolahan kakao bantuan Kementerisn Desa dan PDT tampak berserakan karena pabrik tersebut tidak difungsikan

Mardin menyatakan, sesuai informasi yang pernah diterimanya pabrik kakao ini akan dikelola BUMDes bersama empat desa di Kecamatan Sebatik Barat yang diketuai Ismail, warga Desa Limaum

Baca Juga:  Perusda Nunukan Belum Pertanggungjawabkan Penggunaan Dana Rp2 Miliar

Hanya saja, kelanjutan pengelolaannya tidak terealisasi karena pabriknya belum dapat difungsikan sehingga terbengkalai sampai sekarang.

“Sampai sekarang saya selaku kepala desa Sei Limau yang menghibahkan lahan untuk pabrik kakao itu tidak pernah dilibatkan. Mulai dari awal pengerjaan pembangunannya sampai sekarang,” ujar dia.

Padahal, pemerintah pusat melalui Kemdes dan PDT tujuannya baik agar produksi kakao masyarakat di Kecamatan Sebatik Tengah dapat diolah menjadi bahan jadi berupa tepung.

Akibat mangkraknya pembangunan pabrik ini, maka hasil panen petani kakao di desa itu masih bergantung ke negeri jiran Malaysia untuk dipasarkan.(***)

Baca Juga:  Pedagang Nunukan Minta Kelonggaran Aturan Soal Produk Malaysia

Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here