Rumput Laut Kian Menggoda, Air Laut Terasa Manis

Oleh: Muhammad Rusman (***)

Usaha rumput laut menjadi komoditas primadona di Kabupaten Nunukan, Kaltara. Budidaya yang semakin meluas seiring dengan usaha ini kian menjanjikan.

Bahkan, usaha perikanan ini boleh dikata telah mengalahkan bisnis emas, disebabkan hasilnya sangat besar ditambah jangka waktu masa panen tergolong singkat.

Memang, harga rumput laut seringkali mengalami fluktuasi atau tidak stabil. Tetapi, perli diketahui komoditas ekspor memang begitu kondisinya.

Harga pernah tembus Rp36.000 per kilo gram kering. Akhirnya turun bertahap ke level rendah pada kisaran Rp12.000 per kilo gram.

Namun naik lagi sedikit demi sedikit sehingga kini sudah berafa pada harga Rp20.000 per kilo gram.

Kondisi harga yang berubah-ubah, tidak menyurutkan antusiasme masyarakat Kabupaten Nunukan untuk terus mengembangkan usaha budidaya rumput lautnya.

Ini disebabkan, usaha rumput laut telah mengubah perekonomian masyarakat di daerah itu. Sektor perikanan ini juga telah menampung ribuan pekerja setiap hari.

Tak diherankan, banyak pekerja khusuanya kelompok ibu-ibu dari Sulawesi Selatan yang datang ke Kabupaten Nunukan mengadu nasib.

Usaha Pembuatan Perahu di Sedadap Kecamatan Nunukan Selatan

Rumput laut sudah menjadi komoditas “emas” yang sudah mengalahkan bisnis logam mulia tersebut.

Kondisi harga tergantung dari permintaan negara pengimpor (importir). Oleh karena itu, tidak heran apabila harga rumput laut naik turun.

Pertumbuhan pendapatan yang kian menjanjikan dengan waktu panen yang telatif singkat telah mengubah pemikiran masyarakat untuk beralih profesi.

Baca Juga:  Bos ACT akui kirim bantuan ke Suriah, Ibnu Khajar beralibi tak tahu Syiah atau ISIS

Selama rumput laut berkembang di Kabupaten Nunukan, sudah banyak yang meninggalkan pekerjaan lamanya. Seperti nelayan tangkap dan petani, menyebabkan lahan pertanian banyak yang terbengkalai.

Tingginya animo masyarakat berusaha pada sektor rumput laut ini patut diapresiasi karena mengangkat perekonomian.

Besarnya produksi budidaya ini di Kabupaten Nunukan yang mencapai 4.000 ton setiap bulan memancing pengusaha dari luar Kaltara (eksportir) berdatangan di daerah itu.

Tentunya persaingan juga semakin ketat antara pengusaha lokal dan pendatang.

Metode “panen” rumput laut di Kabupaten Nunukan ada dua jenis dengan cara dipukat menggunakan jala khusus dan budidaya.

Intinya bahwa, keberadaan usaha rumput laut di Kabupaten Nunukan telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat. Perputaran uang terus menggeliat yang berdampak pada semua tatanan perekonomian masyarakat.

Seperti meningkatnya atau banyaknya permintaan tali nilon, kendaraan roda dua dan empat serta alat-alat elektronik lainnya.

Bukan hanya pembudidaya yang meraup untung atas kehadiran rumput laut, tetapi usaha kecil dan menengah lainnya turut terangkat. Disebabkan tingginya animo masyarakat untuk menggeluti usaha ini.

Rumput Laut di Nunukan

Usaha ini, bukan hanya digeluti oleh kalangan masyarakat pesisir atau nelayan tetapi juga sudah merambah kelompok pegawai negeri sipil (PNS), aparat kepolisian dan TNI.

Baca Juga:  Diduga Komplotan Pelaku Ilegal Terusik, Wartawan Diintimidasi

Bahkan pengusaha menengah ke atas pun sangat tergiur berbisnis rumput ini.

Selain, permintaan tali dan kayu yang cukup tinggi tetapi juga usaha perahu pun kini menikmati hasilnya. Permintaan perahu terus meningkat sejak tiga tahun terakhir.

Malahan, perajin perahu dari Sulawesi Selatan mulai berdatangan di Kabupaten Nunukan mendirikan usahanya.

Salah seorang pelaku usaha pembuatan perahu bernama Tanang yang tinggal di Sedadap Kecamatan Selatan mengakui usaha rumput laut menjadi faktor tingginya permintaan perahu saat ini.

Ia menuturkan, sebelum maraknya usaha budidaya rumput laut, pemesan perahu sangat sepi. Dalam sebulan paling ada pesanan satu unit saja.

Sekarang ini, permintaan perahu meningkat tajam hingga empat unit per bulan.

Ukurannya pun berbeda-beda sehingga harga yang dipatok turut variatif. Harga standar perahu ukuran 12 meter sebesar Rp30 juta dengan tujuh KP (papan) bagian kiri dan kanan.

Kemudian, masa pengerjaan untuk satu unit perahu paling lama satu bulan atau tergantung ketersediaan bahan bakunya khususnya kayu.

Tanang mengatakan, kayu yang digunakan tidak boleh sembarangan. “Jenis kayu yang dipakai membuat perahu memang ada khusus tidak boleh sembarangan kayu,” ujar dia pada Kamis, 1 Desember 2022.

Alasannya, perahu yang beraktivitas di laut membutuhkan jenis kayu yang tahan air asin. Lalu, harua tahan goncangan ombak dan benturan.

Baca Juga:  BNN RI Sorot Sebatik Sebagai Pintu Masuk Penyelundupan Narkoba dari Malaysia

Tingginya permintaan perahu tersebut, usaha pembuatan pun semakin banyak sehingga banyak pilihan bagi masyarakat.

Rumput laut ini, telah mengangkat harkat dan martabat perekonomian masyarakat Kabupaten Nunukan. Mulai dari anak-anak sampai ibu-ibu rumah tangga.

Semuanya telah mampu menutupi kebutuhan atau belanja sehari-harinya tanpa mengandalkan lagi hasil keringat suaminya atau orangtuanya bagi anak-anak.

Bagi ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak mendapatkan cuan dari mengikat bibit rumput laut. Ada juga yang membuat tali bentangan dengan harga yang cukup pantastis.

Ongkos atau upah mengikat bibit rumput laut, kini sudah mencapai Rp15.000 per tali. Begitu juga pembuatan tali bentangan, harganya sudah naik juga menjadi Rp26.000 per tali.

Padahal kerjanya tidak terlalu berat karena bisa dikerjakan dalam rumah atau tempat yang teduh.

Akhirnya sebuah kalimat pun terucap “Rumput Laut Ibarat Gadis Belia Kian Menggoda, Air Laut Terasa Manis“. (***)

*** Penulis adalah Pemimpin Redaksi BERANDATIMUR.COM dan Wartawan Bersertifikasi Utama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here