Saling Klaim Lahan Pelabuhan Feri Seimenggaris

NUNUKAN (berandatimur.com) – Polemik Pelabuhan Penyeberangan Feri Semaja Kecamatan Seimenggaris Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara terus bergulir “bak lahar panas dari gunung meletus siap menerkam permukiman warga”.

Pemkab Nunukan dengan warga saat ini saling klaim soal lahan pelabuhan yang dibangun menggunakan dana APBN 2014 di bawah kepemimpinan Bupati Basri dengan Kepala Dinas Perhubungan Petrus.

Namun bola panas yang membungkus permasalahan pelabuhan penyeberangan feri itu muncul akibat proyek pembangunan jalan menuju dermaga yang tak kunjung selesai.

Proyek jalan sepanjang puluhan kilo meter tersebut menggunakan dana alokasi khusus (DAK) APBN 2017 dengan pagu Rp17 miliar.

Bergulirnya bola panas ini, sebelumnya menemui Andi Darwin yang mengaku pemilik lahan seluas dua hektar yang diserahkan kepada pemerintah dengan “bargaining” tertentu untuk membangun dermaga dan sarana prasarana lainnya pelabuhan tersebut.

Bahkan sebelum dimulai pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Feri ini, sudah dibahas bersama-sama melalui dengar pendapat (hearing) di DPRD Nunukan dengan menghadirkan pihak-pihak terkait termasuk Pemkab Nunukan.

Baca Juga:  Gempa Guncang Luwu Timur Sulsel

Klaim Andi Darwin selaku pemilik lahan dibuktikan dengan masa pengolahan yang telah berlangsung lama bersama warga lainnya dengan menanam kelapa sawit.

Kelapa sawit miliknya telah berproduksi namun atas kesepakatan bersama akhirnya 239 batang dikorbankan ditumbang untuk lokasi pembangunan pelabuhan yang tak difungsikan lagi. Akibat kisruh berkepanjangan antara Pemkab Nunukan dengan warga setempat.

Andi Darwin mengakui orangtuanya pernah menerima uang dari PT Rianang selaku pelaksana pembangunan proyek pelabuhan itu sebesar Rp200 juta.

Namun, uang yang dimaksudkan bukan untuk ganti rugi lahan tetapi tali asih pengganti biaya operasional terhadap 239 batang kelapa sawit yang ditumbang.

“Memang orangtuanya saya pernah terima uang dari PT Rianang sebesar Rp200 juta tapi PT Rianang bilang bukan sebagai ganti rugi lahan. Tapi hanya tali asih saja karena 239 batang kelapa sawit yang ditumbang,” beber dia beberapa waktu lalu.

Atas dasar dokumen pengolahan lahan tersebut menjadi dasar bagi Andi Darwin selaku pemilik lahan.

Baca Juga:  Pemkab Nunukan salurkan bantuan dana bagi parpol
Andi Darwin

Disisi lain Pemkab Nunukan melalui Kepala Bidang Prasarana Kepelabuhanan Dinas Perhubungan, Edi di ruang kerjanya pekan lalu menegaskan, lahan daripada Pelabuhan Penyeberangan Feri Semaja itu bukan milik warga.

Tetapi lahan tersebut milik negara yaitu Kementerian Transmigrasi dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Oleh karena itu, Pemkab Nunukan tidak punya kewenangan untuk mengganti rugi.

“Lokasi pembangunan Pelabuhan Feri di Semaja (Seimenggaris) bukan milik warga tapi milik lahan transmigrasi. Dalam artian milik pemerintah, ” beber Edi.

Jika ada warga yang mengklaim lahan tersebut miliknya, mana bukti kepemilikannya dalam bentuk surat atau sertifikat.

Sedangkan pemerintah punya dokumen sehingga selayaknya diambil alih untuk pembangunan fasilitas umum. Hanya saja, kata Edi,  pengambilalihan lahan tidak merugikan warga yang telah mengelolanya.

Jadi, tanam tumbuh milik warga tetap diberikan biaya penggantian dan membiarkan tanamannya tumbuh pada lokasi yang tidak digunakan pemerintah.

Edi menyatakan warga tidak pantas mengklaim lahan apabila tidak memiliki dasar hukum berupa dokumen kepemilikan. Memang, warga dibenarkan mengolah lahan milik pemerintah tapi tidak mungkin diberikan surat kepemilikan.

Baca Juga:  Terungkap Pada Rakor TIK, Begini Harapan Pemkab Nunukan

Pertimbangannya, lahan tersebut suatu saat akan diambilalih pemerintah apabila dibutuhkan termasuk membangun fasilitas umum seperti pelabuhan,  jalanan, jembatan dan lain-lainnya.

Kondisi pelabuhan ini pun mulai rusak baik sarana prasarananya hingga dermaga yang miring, aku Edi.

Meskipun Kepala Bidang Kepelabuhanan Perairan Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan, Samsuddin saat ditemui di ruang kerjanya, menolak permasalahan yang mendera sehingga kapal feri KM Manta tidak beroperasi di Pelabuhan Penyeberangan Semaja.

Tetapi dia mengakui, kapal feri sudah setahun tidak beroperasi di pelabuhan itu tanpa diketahui alasannya. (***)

Editor: M Rusman

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here