Nunukan (berandatimur.com) – Suasana depan Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kaltara yang semrawut akibat kendaraan diparkir sembarangan. Siapa yang harus disalahkan.

Ketua Organda (Organisasi Angkutan Darat) Kabupaten Nunukan, Haji Laoding di Nunukan, Sabtu malam menuturkan, sepanjang tidak ada lahan perparkiran di sekitar Pelabuhan Tunon Taka maka sulit dicarikan solusinya.

Ia menilai, solusi tepat adalah keterlibatan Pemkab Nunukan dalam menata perparkiran di depan pelabuhan besar tersebut.

Jika tidak ada lahan maka perlu dibuatkan marka atau batas parkir kendaraan pada kedua sisi jalanan baik untuk angkot maupun sepeda motor.

Baca Juga:  Calon TKI Kursus Bela Negara Sebelum ke Malaysia

Haji Laoding berpendapat, sulit mengatasi kesemrawutan di depan Pelabuhan Tunon Taka khususnya saat kedatangan kapal penumpang.

Oleh karena itu, apabila hendak menertibkan kendaraan maka Pemkab Nunukan mesti mencarikan solusinya dengan melibatkan banyak pihak.

Mengenai lahan parkir dalam area pelabuhan tidak mampu dimanfaatkan angkot karena retribusi yang dibebankan oleh PT Pelindo IV Cabang Nunukan dianggap terlalu memberatkan.

Haji Laoding mengungkapkan, PT Pelindo membebankan biaya atau pas masuk pelabuhan ditambah parkir sebesar Rp3.000 per jam.

Akibat retribusi yang terlalu mahal yang harus dibayar sopir angkot menyebabkan memilih menunggu penumpang depan pintu pelabuhan.

Baca Juga:  KABAR GEMBIRA - Penerima PKH Dapat Bantuan Tambahan 15 Kg Beras

Dampaknya pasti semrawut karena lokasinya yang sempit sehingga terpaksa menggunakan badan jalan.

Ia mengakui, kesemrawutan kendaraan khususnya angkot yang menggunakan badan sangat mengganggu pengguna jalan lainnya.

“Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena memang kondisinya tidak memungkinkan,” ujar dia.

Ia juga mengharapkan adanya solusi tepat agar ke depannya dapat diperbaiki dengan membicarakan bersama Pemkab Nunukan, Organda dan PT Pelindo. (***)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here