Jamaah tabliq akbar yang dilaksanakan Polres Nunukan di Alun-Alun Nunukan, Minggu (28/4).

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Tabliq akbar yang digelar oleh Polres Nunukan Kalimantan Utara sebagai momen mengingatkan masyarakat khususnya umat Islam agar tetap menjaga keutuhan NKRI pasca pelaksanaan pemilu 2019.

Sebelum tabliq akbar dimulai, Kapolres Nunukan, AKBP Teguh Triwantoro, Minggu (28/4) mengingatkan, agar seluruh masyarakat di wilayah kerjanya tetap bersatu padu meskipun berbeda pilihan pada pemilu 2019.

Ia menyatakan, perbedaan pilihan politik tidak menimbulkan perpecahan tetapi seyogyanya keutuhan NKRI lebih utama dimana saling menyokong satu sama lain.

Teguh meminta, suasana pemilu 2019 yang baru dilaksanakan serentak ini tidak tergambar secara terus menerus dalam hati masing-masing. Tetapi sebaiknya kembali kepada silaturhami yang baik antar sesama.

Mengenai keamanan dan ketertiban menjadi tanggungjawab bersama yakni kepolisian, TNI dan masyarakat umum. “Masalah kamtibmas bukan hanya tanggungjawab kepolisian dan TNI semata tapi masyarakat juga harus menjaganya,” ujar Kapolres Nunukan.

Baca Juga:  Belum bayar pajak, polisi tahan mobil angkutan sampah di Nunukan

Hal yang sama disampaikan Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid melalui Asisten Kesra dan Pemerintahan, Hanafiah bahwa persatuan lebih utama dibandingkan mencari perbedaan.

Ia mengutarakan, masyarakat seyogyanya menjalin hubungan baik antar sesama demi terjaganya persatuan dan kesatuan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Hanafiah yang membacakan sambutan Bupati Nunukan mengharapkan, perbedaan pilihan politik tidak diramu berkepanjangan yang bakal menimbulkan hubungan yang kurang harmonis.

Oleh karena itu, Pemkab Nunukan mengajak persatuan dan keutuhan NKRI dari masyarakat di daerahnya. Apalagi Kabupaten Nunukan berada di wilayah tapal batas negara dengan Malaysia.

Sementara Ustadz Riyadi Hamdan dari Pondok Pesantren As’adiyah turut berpesan kepada jamaah yang hadir agar senantiasa menjaga silaturahmi yang baik pasca pemilu 2019.

“Tidak perlu lagi saling berbeda meskipun pilihan pada pemilu 2019. Tinggalkan perbedaan itu tapi utamakan persatuan Indonesia,” pinta Riyadi.

Baca Juga:  Warga Nunukan terlihat kian resah, penyeberangan ke Tawau belum dibuka

Hal lain yang disampaikan adalah berkaitan dengan harmonisasi kehidupan manusia dengan memegang filosopi kedua tangan.

Dimana tangan ini sudah berbagi tugas yang baik yakni salah satu sakit maka tangan lain yang merawat. Begitu pula salah satu bagian tubuh yang sakit maka tanganlan yang merawatnya.

Untuk itu, filosopi kedua tangan inj sesuai dengan falsafah negara dan bangsa Indonesia bahwa harmonisasi melalui Bhinneka Tunggal Ika akan tetap terjaga karena saling membantu dan memperhatikan.

Muballiq ini juga mengatakan agar tidak terjadi saling iri dan dengki satu sama lain karena sifat semacam itu dapat menimbulkan kebencian antar sesama.

Ada sebuah pameo menyatakan, sifat iri dan dengki sama dengan makna bahwa siapa yang menggali lubang maka penggalinya yang pertama turun dalam lubang tersebut.

Baca Juga:  Cegah gagal tumbuh (stunting) bagi anak, salah satunya konsumsi sayur kelor

Menurut dia, sifat iri dan dengki sama dengan filosopi kedua mata. Apabila satu yang dibelikan kacamata mata harus berpasangan.

Begitu pula, jika salah satu mata yang sakit maka mata lainnya tidak bisa merawatnya. “Jadi jangan pakai filosopi kedua mata karena saling iri dan tidak bisa membantu anggota badan lainnya yang membutuhkan bantuan,” ujar Ustadz Pesantren As’adiyah ini. (***)

Penulis : M Rusman

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here