Ternyata Dinkes Nunukan tak Miliki Rekap Penderita DBD 2019-2020, Ini Alasannya

Penderita DBD
Kabid P2P Dinkes Nunukan, Irma Yanti, SKM, Mkes

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Dinas Kesehatan Nunukan, Kalimantan Utara ternyata tidak memiliki rekapitulasi data penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Bagaimana mau melakukan pencegahan?

Bermula ketika awak media melakukan konfirmasi pada Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Nunukan terkait data penderita DBD pada Senin, 13 Juli 2020 .

Melalui Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Nunukan, Irma Yanti, SKM, MKes pada hari itu, tidak mampu memberikan data valid soal penderita penyakit DBD di daerahnya. Termasuk kurang maksimalnya tindakan yang dilakukan dalam mencegah dan menanggulangi penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes ini.

Alasan dia, baru saja menduduki jabatan itu sehingga belum memiliki data valid. Meskipun dia akui, sudah mendapatkan laporan dari puskesmas-puskesmas khususnya kecamatan terjangkit.

Selain itu, Irma Yanti juga berkilah, begitu menjabat langsung dihadapkan dengan menularnya virus Corona di Kabupaten Nunukan sehingga selama ini lebih fokus menangani penyakit tersebut.

“Saya baru saja menjabat di bidang ini jadi belum punya data penderita DBD, lagian begitu menjabat langsung berhadapan dengan COVID-19. Ini membikin laporannya ke KPK,” ujar Irma Yanti sambil menunjuk laporan yang menumpuk di depannya.

Baca Juga:  Dinas Sosial catat 22 anak yatim/piatu akibat COVID-19

Awak media yang menginginkan data penderita penyakit DBD harus menunggu kurang lebih 40 menit. Itupun data yang diperoleh masih simpang siur.

Tampak pula staf Bidang P2P Dinas Kesehatan Nunukan sibuk mengutak-atik laptop dan komputer di mejanya sambil menelpon rekannya guna mendapatkan data yang dibutuhkan.

Irma Yanti dengan suara terbata-bata memberikan penjelasan soal kondisi penularan penyakit DBD yang disebabkan oleh nyamuk aides tersebut.

Data yang diberikan kepada awak media selalu berubah-ubah akibat tidak adanya rekapitulasi data valid yang dimiliki. Sangat disayangkan jika benar tidak punya data valid, padahal penting untuk dijadikan acuan melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan.

Ibu berhijab ini, sempat mengungkapkan tidak ada penderita penyakit DBD yang meninggal pada 2019 dan hanya satu orang penderita DBD yang meninggal pada 2020.

Setelah diberitahukan oleh awak media berdasarkan pemberitaan sejumlah media online bahwa pasien meninggal dunia pada 2019 lebih banyak dibandingkan 2020. Kabid P2P Dinkes Nunukan kembali kebingungan dan kelimpungan mencari data.

Baca Juga:  Sinergitas Antar Instansi Dipertanyakan, Karantina tak Berdaya Cegah Penyelundupan Daging dari Malaysia

Bahkan sempat pula, Irma Yanti menyebutkan, pasien DBD selama 2020 hanya satu orang yakni seorang tenaga kesehatan di Puskesmas Sedadap. Padahal diketahui, penderita penyakit DBD pada 2020 telah tercatat empat orang.

Keempat pasien meninggal dunia masing-masing Pebruari 2020 dan Maret 2020 ada dua orang dari Kecamatan Seimenggaris.

Pada April 2020 dan Juni 2020 ada dua orang juga dari Kecamatan Nunukan Selatan.

Sedangkan penderita penyakit ini selama 2020 telah berjumlah 25 orang masing-masing Kecamatan Nunukan (12 orang), Nunukan Selatan (4), Sebatik dan Sebatik Tengah (1).

Irma Yanti menambahkan, penderita DBD pada 2019 sebanyak 43 orang terbanyak di Kecamatan Nunukan berjumlah 20 orang, Sebuku dan Lumbis masing-masing sembilan orang.

Kecamatan Seimemggaris dan Nunukan Selatan masing-masing dua orang dan Sebatik hanya satu orang.

Jika mengacu pada data yang disebutkan Kabid P2P Dinas Kesehatan Nunukan ini, maka penderita penyakit DBD pada 2020 di Kecamatan Seimenggaris dan Nunukan Selatan meningkat tajam dibandingkan pada 2019.

Baca Juga:  Pelantikan pengurus KKSS Nunukan berlangsung sukses, Safri: Berkat kerja keras seluruh panitia

Tetapi dua kecamatan yakni Sebuku dan Lumbis mengalami penurunan drastis. Pada 2019, kedua kecamatan ini masing-masing terdapat sembilan penderita sedangkan 2020 ini belum ada. Begitu juga Kecamatan Sebatik Barat dimana 2019 sebanyak dua kasus tetapi pada 2020 ini belum ada penderita yang ditemukan.

Irma Yanti mengutarakan, adanya kecamatan yang tinggi penderita penyakit DBD karena kurangnya kesadaran masyatakatnya dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya.

Meskipun, puskesmas setempat telah mengedukasi secara berkesinambungan dengan menekankan pentingnya menjaga kebersihan pada titik-titik yang bisa dijadikan oleh nyamuk untuk berkembang biak.

Ia juga mengklaim telah melakukan tindakan-tindakan pencegahan seperti sosialisasi, edukasi dan epidemiologi.

Sementara penanggulangan yang dilakukannya berupa pengobatan, fogging pada wilayah terjangkit dan tracing terhadap keluarga pasien. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here