NUNUKAN (berandatimur.com) – Tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Toli-Toli, Sulteng bernama Sultan bin Cobbo Mabbate (50) terpaksa dipulangkan ke kampung halamannya melalui Kabupaten Nunukan, Kaltara karena menderita sakit parah.
    TKI ini sempat dirawat di Hospital Tawau selama satu bulan akibat penyakitnya yang dideritanya sejak tiga bulan lalu.
    Asmira Amarullah Khan, tetangganya di Tawau yang mendampingi ke Kabupaten Nunukan, Jumat menyatakan, pria ini hidup sebatang kara dan bekerja pada pabrik kayu Selera Indah Sdn Bhd di Tawau sejak tujuh tahun silam dengan paspor nomor: AT680934.
    Sesuai diagnosa dokter yang merawatnya di hospital negeri jiran, TKI ini mengalami penyumbatan syaraf di kepala, stroke dan asma.
    Sultan yang lahir di Kabupaten Bone, Sulsel ini sekarang keluarganya berdomisili di Desa Bankir Kecamatan Dampal Selatan Kabupaten Toli-Toli.
     “Saya tetangganya disana (Tawau). Beliau tidak punya keluarga jadi saya yang dampingi pulang sampai sini (Nunukan),” ujar dia.
    Pemulangan TKI yang terbaring lemas berusaha menahan sakit yang dideritanya dengan sekali-kali meraung itu berdasarkan surat Konsulat RI Tawau nomor: 1234/Kons/XI/2018 tertanggal 30 Nopember 2018.
    Dalam surat tersebut dikatakan atas permintaan keluarganya bernama Darmawati yang beralamat di Desa Bankir Kecamatan Dampal Selatan Kabupaten Toli-Toli, Sulteng.
    TKI sakit ini tiba di Pelabuhan Tunon Taka dengan menggunakan KM Malindo Ekspres dari Pelabuhan Tawau sekira pukul 12.30 wita didampingi staf dari KRI Tawau dan tetangganya bernama Asmira.
    Pada berita acara penyelesaian masalah yang ditandatangani manager Selera Indah Sdn Bhd bernama Sim Si Jet beralamat 1032 Taman Shangrila Jalan Chong Thien Vun 91000 Tawau, Sabah dengan Darmawati, keluarga Sultan beralamat di Toli-Toli, Sulteng.
    Berita acara ini juga diketahui oleh KRI Tawau melalui Konselor Ketenagakerjaan, Bambang Eko Suhartono tertanggal 27 Nopember 2018.
    Disebutkan bahwa TKI bersangkutan (Sultan bin Cobbo Mabbate) telah menerima hak-haknya sebesar RM5,534 setara Rp19.922.400 (kurs Rp3.600).
    Namun, kata Asmira, uang insuran atau pesangon dari perusahaannya bekerja belum diterima sehingga dirinya akan mengurusnya.
    Pada kesempatan itu pula, KRI Tawau langsung menyerahkannya kepada BP3TKI Nunukan selanjutnya dirawat di RSUD Nunukan sambil menunggu kapal Pelni menuju Pelabuhan Toli-Toli.

Penulis: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here