TKW Korban Perdagangan Orang Bungkam, Staf KJRI Larang Diwawancara

NUNUKAN (berandatimur.com) – Dua tenaga kerja wanita (TKW) korban perdagangan orang (human trafficking) dan tindak kekerasan di Negeri Sabah Malaysia bungkam atau tutup mulut karena staf Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu melarang untuk diwawancara.

Beberapa kali berusaha diwawancara awak media yang meliput pemulangan kedua TKW selalu ditolak oleh staf KJRI Kota Kinabalu dengan alasan tidak jelas.

“Jangan dulu pak. Belum bisa diwawancara,” ujar Staf KJRI Kota Kinabalu berkelamin perempuan ini.

Upaya legowo yang dilakukan awak media ternyata tidak berhasil mewawancarai kedua TKW korban perdagangan orang dan tindak kekerasan ini hingga diberangkatkan ke penampungan di Rusunawa Jalan Ujang Dewa Kelurahan Nunukan Selatan pada Kamis (17/1) sekira pukul 18.30 wita.

Baca Juga:  Kapolres Nunukan: Penyelundup/Pengedar Narkoba Pengkhianat Negara

Sebelumnya, kedua TKW ini diinterogasi oleh petugas imigrasi Nunukan selanjutnya digiring ke ruangan aparat kepolisian di terminal Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan.

Pantauan awak media, dalam ruangan aparat kepolisian keduanya TKW ini diinterogasi pula. Hanya saja setelah itu belum diberikan kesempatan untuk diwawancarai wartawan tanpa alasan yang jelas.

Akhirnya sejumlah wartawan yang berusaha mendapatkan keterangan dari kedua TKW ini tidak berhasil.

Petugas Imigrasi Nunukan menginterogasi salah seorang TKW korban perdagangan orang dan kekerasan di Kantor TPI Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kamis (17/1). Foto: M Rusman

Kepala Seksi Pemberdayaan dan Perlindungan TKI BP3TKI Nunukan, Arbain di Terminal Pelabuhan Tunon Taka pada hari itu juga menyatakan, kedua TKW ini awalnya bekerja di Kecamatan Sebuku Kabupaten Nunukan.

Baca Juga:  Polres Nunukan Mengaku Komitmen Berantas Calon TKI Ilegal

Entah apa pekerjaannya di daerah tersebut akhirnya kenal dengan warga negara Malaysia yang membawanya ke Negeri Jiran Malaysia melalui Desa Mansalong Kecamatan Lumbis masuk Keningau Negeri Sabah.

Kedua TKW ini masuk ke wilayah Malaysia secara ilegal dengan iming-iming akan diberikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga oleh WN Malaysia yang tidak diketahui identitasnya.

Namun setelah tiba di negara tersebut, pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung ada malah tindak kekerasan yang dialaminya.

Arbain mengaku belum mendapatkan informasi yang lengkap sekaitan kedua TKW yang dipulangkan oleh KJRI Kota Kinabalu ini ke Kabupaten Nunukan.

Baca Juga:  Gubernur Luncurkan Kartu Guru dan Penyuluh Sejahtera

“Saya belum dapatkan informasi lengkap soal kedua TKW korban “trafficking” dan kekerasan ini. Baru tanya-tanya lepas saja tadi pas baru datang,” ujar Arbain.

Kedua TKW tersebut berinisial “Lin” usia 36 tahun asal Sukabumi Jawa Barat dan “Wil” usia 23 tahun asal Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. (***)

Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here