Komandan Lantamal XIII Tarakan, Laksamana Pertama TNI Djudijanto (ketiga dari kanan) pada HUT Lanal Nunukan ke-18, Sabtu (27/4).

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) –  Untuk memaksimalkan penjagaan pelintas batas ilegal dari dan ke Malaysia, TNI AL membutuhkan pos penjagaan perbatasan di Sei Ular Desa Sekaduyan Taka Kecamatan Seimenggaris Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara.

Hal penting, mengingat Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia perlu adanya penjagaan maksimal agar segala bentuk penyelundupan dapat diatasi, ungkap Komandan Pangkalan Utama TNI AL XIII Tarakan, Laksamana Pertama TNI Djudijanto usai mengikuti perayaan HUT Pangkalan TNI AL Nunukan ke-18, Sabtu (27/4).

Ia mengharapkan, pemerintah pusat mempertimbangkan penambahan pos penjagaan seperti Sei Ular karena jalur itu sering dimanfaatkan pelintas batas ilegal menyelundupkan barang terlarang maupun orang.

“Untuk mengantisipasi pelintas batas ilegal yang keluar masuk dari dan ke wilayah Malaysia maka perlu ada pos penjagaan di Sei Ular Kabupaten Nunukan,” harap Djudijanto.

Baca Juga:  Masjid Salabose Berusia 400 Tahun Tanda Awal Masuknya Islam di Majene

Ia mengakui, pelintas batas negara secara ilegal masih sering terjadi melalui jalur laut di daerah itu sehingga butuh pengawasan ketat di tapal batas laut oleh aparat TNI AL.

Namun upaya tersebut sulit dilakukan akibat kurangnya pos penjagaan dan fasilitas yang minim sehingga perlu penambahan lagi.

Ia mencontohkan, WNI yang ditangkap oleh aparat kepolisian merin Sabah Malaysia baru-baru ini akibat memasuki wilayah negara itu membudidayakan rumput laut tanpa izin dan tidak memiliki paspor.

Kasus semacam ini sudah seringkali terjadi namun sulit diawasi karena pos penjagaan tapal batas laut sangat jauh dari jalur tersebut, ujar dia.

Baca Juga:  FKUB temui Gubernur Kaltara, siap kawal keharmonisan umat

Untuk memaksimalkan penjagaan tapal batas laut Indonesia dengan Malaysia di Kabupaten Nunukan maka pemerintah perlu menambah pos penjagaan utamanya di Sei Ular tersebut.

Komandan Lantamal XIII Tarakan ini juga menyinggung soal pos penjagaan di Tanjung Aus yang perlu mendapatkan perhatian karena jalur ini seringkali dimanfaatkan para penyelundup barang terlarang seperti narkoba dari Malaysia.

Jalur Tanjung Aus ini juga seringkali digunakan sebagai jalur penyelundupan kepiting bertelur ke Malaysia. Untuk itu, pemerintah perlu memperhatikan fasilitas yang dibutuhkan aparat TNI AL agar bisa memaksimalkan penjagaan dan pengawasan.

Baca Juga:  Pelni Nunukan Angkut Puluhan Ton Bantuan Korban Tsunami Sulteng

Djudijanto menyatakan, jalur Ambalat yang sering digunakan oleh nelayan Malaysia masuk wilayah NKRI menangkap ikan dan jalur penyelundupan sudah tidak ada masalah.

Sebab jalur laut dari dan ke Malaysia dan Filipina ini telah diawasi oleh tiga sampai empat kapal perang setiap saat. Berkat penempatan kapal perang pada jalur ini maka segala bentuk kegiatan terlarang mampu diminimalisir. (***)

Penulis : M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here