NUNUKAN – Ada kisah haru yang terselip ketika calon jemaah haji (CJH) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dilepas oleh Bupati Nunukan, H Irwan Sabri pada Kamis, 30 April 2026. CJH ini adalah saudara kandung yang terpaksa meninggalkan ayahnya yang sedang terbaring sakit akibat penyakit demensia dini (young-onset dementia).
Sebanyak 138 CJH Kabupaten Nunukan pada 2026 ini dilepaskan untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekah yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 7 embarkasi Balikpapan, Kalimantan Timur. Kedua kakak beradik ini tergabung dalam kloter 7 atas nama Andi Yakub dan Andi Nur Syafariyanti.
Sekadar informasi, CJH Kabupaten Nunukan pada pemberangkatan 2026 ini berjumlah 222 orang yang tergabung dalam dua kloter. Kloter pertama sebanyak 138 orang tergabung dalam kloter 7 yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci pada 4 Mei 2026 dan kloter 8 sebanyak 84 orang asal Pulau Sebatik dibenarangkatkan pada 5 Mei 2026.
Kedua saudara kandung ini, menceritakan keharuannya bahwa ibunya telah lama meninggalkannya dan ayahnya kini sedang terbaring sakit. Duka mendalam yang dialami kedua bersaudara ini masih membayangi langkahnya karena keberangkatannya ke Tanah Suci untuk menggantikan kedua orangtuanya.
Tampak CJH atas nama Andi Nur Syafariyanti sekaligus jemaah termuda Kabupaten Nunukan ini dengan mata yang berkaca-kaca melangkahkan kaki dengan pelan mengungkapkan kesediahn hatinya dengan suara bergetar.
“Sesampainya kami di Tanah Suci nanti, kami ingin mendoakan ibu, semoga segala amal ibadahnya diterima dan diampuni dosa-dosanya semasa hidup. Dan untuk ayah, kami akan terus memohon kepada Allah agar diberikan kesembuhan dan kesehatan kembali,” ucapnya lirih menahan tangis.
Andi Nur mengatakan, perjalanannya ke Tanah Suci bukan sekadar menunaikan rukun Islam yang kelima. Tetapi, bagian dari pengabdian dan kecintaan tak terhingga kepada kedua orang tuanya. Ia pun mengaku sudah bertekad menjalani setiap rangkaian ibadah dengan niat tulus, dan akan menghadiahkan doa terbaik bagi ibunya yang telah meninggal dunia dan ayahnya yang sedang melawan penyakitnya.
Isak tangis keluarga pecah saat momen perpisahan. Pelukan hangat dan doa-doa yang dipanjatkan mengiringi langkah kakak beradik ini. Di balik keberangkatan ke Mekah, tersimpan kisah tentang kehilangan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjaga amanah.
Kisah Andi Yakub dan Andi Nur Syafariyanti menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati. Di dalamnya ada doa yang tak sempat terucap, harapan yang tertunda, dan cinta yang terus hidup dititipkan dalam setiap langkah menuju Tanah Suci. (*)









