MAKASSAR – Kedatangan rombongan SMA Negeri 1 Kaimana, Papua Barat yang bertajuk “Studi Tiru” pada 3 SMA di Kota Makassar patut diapresiasi dalam rangka pengembangan pendidikan di daerahnya.
Ketiga SMA di Kota Makassar yang dikunjungi untuk belajar adalah SMA Negeri 2, SMA Katolik Cenderawasih dan SMA Negeri 5.
Jumlah rombongan yang diboyong tidak sedikit mencapai 70 orang terdiri dari tenaga pendidikan atau guru, dan siswa berprestasi dan pengurus OSIS.
Kehadirannya di Kota Makassar disambut baik pada ketiga sekolah yang dikunjungi tersebut.
Menurut Kepala SMA Negeri 1 Kaimana,Yosapaat Lamawuram menuturkan, kunjungan pada ketiga sekolah favorit di Kota Makassar sudah menjadi program kerjanya sekolah yang dipimpinnya. Tujuannya tak lain adalah untuk belajar berkaitan dengan pengembangan pendidikan dan pembinaan kesiswaan pada ketiya sekolah yang dikunjungi.
Yosapaat mengakui, masih banyak hal yang perlu dipelajari pada sekolah-sekolah yang dianggap sudah berkembang di Kota Makassar untuk diterapkan di sekolahnya.

“Kami datang di Kota Makassar ini dengan membawa rombongan dari guru-guru dan staf serta siswa siswa untuk belahar. Tentunya hasil belajar ini akan kami terapkan di sekolah kami,” ujar dia saat diwawancarai di SMA Negeri 5 Makassar pada Kamis, 11 Juni 2026.
Yosapaat menambahkan, kedatangannya di SMA di Kota Makassar tentunya untuk melihat secara langsung kemajuan-kemajuan dan prestasi yang sudah dicapai selama ini.
“Kami mau belajar di beberapa bagian seperti bidang kurikulum, kemudian bidang kesiswaan, hubungan kemasyaratannya, kemudian nanti juga dibidang saprasnya, kemudian pengelolaan OSIS,” ungkap dia.
Semua management yang ditetapkan pada ketiga sekolah yang dikunjungi di Kota Makassar untuk dilihat dan dibuat perbandingan dengan SMA Negeri 1 Kaimana.
Menurut dia, percaya pada kemajuan setiap sekolah terutama di SMA Negeri 5 Makassar, SMA Negeri 2 Makassar dan SMA Katolik Makassar memiliki keunggulan tertentu dan prespektif baik yang bisa menginspirasi sekolahnya.
“Itulah maksud kedatangan kami di Kota Makassar ini yang bertajuk studi tiru ini,” bener Kepala SMA Negeri 1 Kaimana kepada awak media ini.
Pada sisi lain, maksud membawa siswa siswinya dari pengurus OSIS untuk memberikan dan memperkenalkan budaya lokal Papua Barat. Begitu juga dimaksudkan untuk belajar dengan teman-teman OSIS pada ketiga sekolah yang dikunjungi di Kota Makassar.
Selama berkunjung pada tiga sekolah di Kota Makassar, Yosapaat mengakui masih banyak aspek-aspek yang cukup berbeda dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di sskolahnya.
Diantaranya mengenai pengelolaan kesiswaan dalam hal ini khususnya bidang extrakurikuler seperti tarian, pengadaan alat musik. Ia menilai pengelolaan extrakulikulernya luar biasa meskipun di sekolahnya juga sudah ada disediakan, namun belum terlalu maju.
Pembinaan kesiswaan di SMA Negeri 1 Kaimana, lanjut Yosapaat, juga mengedepankan kearifan lokal dengan menghidupkan budaya setempat terhadap siswa siswinya.
Sebagaimana tarian-tarian yang ditampilkan oleh siswa siswanya ketika studi tiru pada tiga sekolah yang dikunjungi di Kota Makassar.
Selama ini, SMA Negeri 1 Kaimana lebih mengutamakan siswa siswinya berbaur satu sama lainnya sebagai wujud dalam memahami ke-nusantara-an. Misalnya, siswa siswi asli Papua bisa memerankan tarian dari Sulawesi, Jawa, Sumatera.
Jadi tambah Yosapaat, siswa siswi di SMA Negeri 1 Kaimana diajarkan lebih mengutamakan toleransi dan memahami tradisi dari suku yang majemuk di Papua Barat.
Studi tiru yang dilaksanakan SMA Negeri 1 Kaimana ini merupakan program kerja. “Kami sudah beberapa kali keluar melakukan Studi tiru namun tidak dilaksanakan setiap tahun,” tandas Yosapaat.
Meskipun, siswa siswi SMA Negeri 1 Kaimana diakui menjadi langganan untuk mewakili Provinsi Papua Barat pada setiap kegiataan kesiswaan tingkat nasional.
Namun, diakui Kepala sekolahnya masih sangat jauh dibandingkan dengan ketiga sekolah yang dikunjungi di Kota Makassar ini. Keinginannya agar sekolahnya bisa maju dan berkembang seperti sekolah unggulan lainnya, oleh karena itu melakukan studi tiru di sekolah-sekolah yang lebih berkembang di Kota Makassar ini.
Rombongan yang dibawa 29 guru, 27 siswa ditambah dengan staf, sebut Yosapaat. (*)









