Home / Advetorial / Pemkab Bulukumba

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:38 WIB

Soal Pelestarian Perahu Pinisi, Unhas Paparkan Hasil Penelitiannya

BULUKUMBA – Penelitian tentang tata kelola pelestarian perahu pinisi dipaparkan oleh peneliti dari Maritime Governance and Sustainable Development Research Group bersama Adaptive Public Organization Research Group dari Departemen Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas.

Dua judul penelitian yang berbeda dipaparkan di hadapan puluhan peserta melalui diseminasi yang difasilitasi Bapperinda Pemkab Bulukumba di Ruang Kahayya Gedung Pinisi pada Rabu, 1 Juli 2026.

Diseminasi hasil penelitian ini menjadi forum akademik sekaligus membangun ruang dialog multipihak dalam merumuskan kebijakan pelestarian Pinisi yang berbasis riset.

Kedua hasil penelitian tersebut berjudul “Tradisi di Persimpangan: Memahami Tantangan Pelestarian Pinisi di Bulukumba” dan “Kapasitas Adaptif Pinisi Tereduksi: Kapasitas Absorptif Asimetris dalam Industri Maritim Budaya”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat tata kelola pelestarian Pinisi sebagai warisan budaya maritim yang berkelanjutan.

Diseminasi ini dihadiri puluhan peserta ini dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bulukumba, Muh. Ali Saleng, didampingi Ketua Bapperida Bulukumba, A. Irma Darmayanti.

Dalam sambutannya, Sekda Bulukumba mengapresiasi kontribusi akademisi dalam menghasilkan kajian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Menurutnya, hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu referensi penting dalam penyusunan kebijakan daerah yang mendukung upaya pelestarian Pinisi secara berkelanjutan.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi presentasi hasil penelitian yang dipandu oleh Andi Ahmad Yani, selaku pendamping tim riset. Forum menghadirkan dua pemaparan utama yang menawarkan perspektif berbeda namun saling melengkapi mengenai dinamika tata kelola Pinisi.

Paparan pertama disampaikan Nuralamsyah Ismail, yang menyampaikan hasil penelitian mengenai kapasitas adaptif industri Pinisi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa industri Pinisi dari sudut pandang organisasi, saat ini menghadapi tekanan akibat globalisasi, perubahan iklim, serta semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku kayu. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa kapasitas adaptif para pelaku industri mengalami penurunan, terutama pada aspek kelembagaan, keberlanjutan sumber daya, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan perencanaan jangka panjang.

Jangan Lewatkan  Gubernur Sulsel-Sultra Bertemu, Bahas Konektivitas Udara dan Laut

Meskipun kemampuan berinovasi dan merespons perubahan pasar masih relatif baik, proses adaptasi yang berlangsung cenderung bersifat reaktif dan belum didukung oleh pembelajaran kolektif maupun penguatan kelembagaan yang memadai.

Selanjutnya, Ishak Salim, mempresentasikan hasil penelitian mengenai tantangan pelestarian Pinisi dari perspektif jaringan aktor dalam kebijakan.

Penelitian tersebut mengidentifikasi empat tantangan utama, yaitu komodifikasi budaya, ketimpangan relasi kekuasaan antaraktor, fragmentasi jaringan kelembagaan, serta krisis ketersediaan bahan baku kayu.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan pembentukan asosiasi pekerja Pinisi, penyusunan kontrak kerja yang mampu melindungi pekerja sekaligus nilai-nilai budaya, penguatan tata kelola pemanfaatan kayu yang transparan dan berkelanjutan, dokumentasi pengetahuan lokal, serta pengembangan pariwisata berbasis komunitas sebagai strategi menjaga keberlanjutan budaya maritim.

Diskusi yang berlangsung setelah sesi presentasi menghadirkan berbagai perspektif dari para peserta yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, akademisi, penggiat pelestarian Pinisi, Horst Liebner, para panrita lopi, tokoh pemuda, serta perwakilan Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, dan Desa Bira.

Beragam masukan yang disampaikan memperkaya hasil penelitian sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem budaya Pinisi.

Tanggapan konstruktif diberikan guna menekankan pentingnya tindak lanjut atas hasil penelitian tersebut, baik melalui pengembangan riset yang lebih mendalam maupun melalui komitmen Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjawab berbagai tantangan pelestarian Pinisi.

Melalui kegiatan diseminasi ini, Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin bersama Bapperida Kabupaten Bulukumba berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, tetapi dapat menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan publik yang berbasis bukti serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Pinisi sebagai warisan budaya maritim yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya.(*)

Jangan Lewatkan  Ketua Karang Taruna Jadi Narasumber Seminar di Poltek Nunukan

Share :

Baca Juga

Advetorial

Cegah Kebocoran PAD, Dishub Bulukumba Rancang Pembayaran Parkir Secara Digital

Advetorial

Kapolda Kaltara Hadiri Serah Terima Jabatan Wakapolri

Advetorial

Kapolda Kaltara Silaturahmi di Keuskupan Tanjung Selor

Advetorial

Polri Ringkus Buronan Thailand di Bali, Punya KTP Bernama Sulaiman

Advetorial

Polda Kaltara Kerahkan Personel BKO ke Polres-Polres PAM Pilkada 2024

Advetorial

Kaltara Target 14 Persen Angka Stunting Pada 2024

Advetorial

Gubernur Kaltara Apresiasi Peningkatan Kualitas ASN

Pemkab Nunukan

Pertumbuhan Ekonomi Nunukan 2024 Sebesar 4,28 Persen