JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus merosot alias “ambruk” menghadapi tekanan mata uang ringgit Malaysia pada perdagangan Jumat, 24 April 2026. Melansir data Refinitiv, pada pukul 03.45 WIB rupiah terpantau melemah 0,54 persen terhadap mata uang negeri jiran tersebut pada level terendah sebesar Rp4.353.
Sejak awal perdagangan, tekanan terhadap rupiah sudah terlihat saat dibuka pada pada level Rp4.336/MYR. Pelemahan itu kian tergerus seiring berjalannya transaksi bukan terjadi tanpa alasan. Sebab, mata uang RI juga mengalami tekanan cukup deras terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada level Rp17.300/US$ atau melemah 0,76 persen.
Level ini juga menjadi posisi terlemah secara intraday terhadap greenback, sekaligus menandai tembusnya level psikologis baru. Perkembangan tersebut, secara year to date (ytd) rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 3,78 persen terhadap dolar AS.
Bagaimana tekanan US$ dengan ringgit Malaysia? Pada perdagangan di waktu yang sama, ringgit juga sebenarnya berada dalam tekanan, terpantau di level MYR3,964/US$ atau melemah sekitar 0,35 persen.
Namun, kinerja ringgit sepanjang tahun ini masih tergolong impresif secara year to date yang tercatat masih terapresiasi sekitar 2,27 persen terhadap dolar AS. Artinya, tekanan yang lebih besar dialami rupiah.
Sementara ringgit, pada hari ini ikut melemah terhadap dolar AS. Hanya saja, secara keseluruhan masih mampu menunjukkan ketahanan dan bahkan unggul melawan greenback sepanjang tahun berjalan. Pelemahan rupiah terhadap ringgit tidak hanya terjadi karena tekanan pada mata uang domestik, tapi memang juga mata uang Malaysia ini sedang ditopang fundamental yang kuat.
Sejumlah analis global menilai ringgit masih berpeluang menguat lagi sepanjang 2026. Strategist Loomis Sayles Hassan Malik misalnya menyebut Malaysia saat ini ditopang pertumbuhan yang tangguh, kebijakan makro yang kredibel, serta ekonomi yang terdiversifikasi, mulai dari energi hingga data center.
Dukungan lainnya datang dari ekspor yang tetap kuat dan derasnya investasi ke sektor pusat data. Deutsche Bank dan OCBC juga melihat ringgit masih memiliki ruang penguatan, dengan kisaran MYR3,85-3,90 per dolar AS dinilai masih mungkin diuji tahun ini.
Melemahnya Rupiah terhadap Ringgit berdampak pula pada sektor pariwisata. Angka wisatawan asal Malaysia yang berkunjung ke Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2.639.749 orang akibat dari biaya berwisata ke Indonesia relatif lebih murah seiring lebih kuatnya posisi ringgit.
Jumlah wisatawan asal Malaysia dirilis oleh Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Disebutkan pula, kunjungan wisatawan mancanegara asal negeri jiran ini sebanyak 17,16 persen dari total kunjungan wisman ke Indonesia yang mencapai 15.386.646 pada 2025.
Melemahnya Rupiah terhadap mata uang Malaysia, dapat memicu daya tarik warga nergara tetangga untuk berkunjung ke Indonesia. Kurs yang lebih menguntungkan membuat biaya hotel, makan, transportasi, hingga belanja di Indonesia menjadi relatif lebih murah bila dihitung dalam ringgit.
Secara globalnya, pada satu sisi pelemahan rupiah terhadap ringgit menjadi tekanan. Tetapi di sisi lain, memberikan peluang yang bisa dimanfaatkan, yakni meningkatnya daya tarik Indonesia sebagai destinasi yang lebih murah bagi wisatawan Malaysia. (CNBC Indonesia)









